DAKWAH RASULULLAH PERIODE MADINAH

DAKWAH RASULULLAH SAW  PERIODE MADINAH

Periode Madinah dapat dibagi menjadi 3 tahapan masa, yaitu  :

  1. Tahap peletakan dasar-dasar masyarakat Islam serta konsolidasi dakwah Islamiyyah. Pada tahapan ini, banyak diwarnai guncangan dan cobaan. Banyak sekali rintangan yang muncul baik dari dalam ataupun luar. Dimana kaum Musyrikin tetap ingin membumi hanguskan akar dakwah Islamiyyah di Madinah. Tahap ini berakhir sampai dikukuhkannya Perjanjian Hudaibiyah pada bulan Dzulqa’idah tahun keenam hijrah.
  2. Tahap perdamaian dengan musuh terbesar, yaitu orang Kafir Quraisy di Mekah. Pada tahap ini, juga ditempuh jalan untuk menyebarkan dakwah Islamiyyah kepada raja-raja agar masuk Islam. Tahap ini berakhir dengan sampai terjadinya Fathu Mekah pada bulan Ramadhan tahun kedelapan dari hijrah.
  3. Tahap dimana manusia masuk Islam secara berbondong-bondong. Tahap ini terus berlangsung sampai tiba waktu wafatnya Rasulullah Saw pada bulan Rabi’ul Awwal tahun kesebelas dari hijrah.

Rencana hijrah Rasulullah diawali karena adanya perjanjian antara Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang Yatsrib yaitu suku Aus dan Khazraj saat di Mekkah yang terdengar sampai ke kaum Quraisy hingga Kaum Quraisy pun merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua suku. Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar oleh Nabi SAW, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam perjalanan, termasuk 2 ekor unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi SAW menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi SAW masih tidur.

Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi SAW keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Nabi SAW menemui Abu Bakar yang telah siap menunggu. Mereka berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil sebelah selatan Kota Mekah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam menunggu keadaan aman Pada malam ke-4, setelah usaha orang Quraisy mulai menurun karena mengira Nabi SAW sudah sampai di Yatsrib, keluarlah Nabi SAW dan Abu Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah bin Uraiqit yang diperintahkan oleh Abu Bakar pun tiba dengan membawa 2 ekor unta yang memang telah dipersiapkan sebelumnya. Berangkatlah Nabi SAW bersama Abu Bakar menuju Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu jalan yang tidak pernah ditempuh orang.

Setelah 7 hari perjalanan, Nabi SAW dan Abu Bakar tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya 5 km dari Yatsrib. Di desa ini mereka beristirahat selama beberapa hari. Mereka menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi SAW membangun sebuah masjid yang kemudian terkenal sebagai Masjid Quba. Inilah masjid pertama yang dibangun Nabi SAW sebagai pusat peribadatan.

Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi SAW. Sementara itu penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya. Menurut perhitungan mereka, berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh orang, seharusnya Nabi SAW sudah tiba di Yatsrib. Oleh sebab itu mereka pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang ke arah Quba, menantikan dan menyongsong kedatangan Nabi SAW dan rombongan.

“Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan perasaan bahagia, mereka mengelu-elukan kedatangan Nabi SAW. Mereka berbaris di sepanjang jalan dan menyanyikan lagu Thala’ al-Badru, yang isinya:

Telah tiba bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ’i (celah-celah bukit). Kami wajib bersyukur, selama ada orang yang menyeru kepada Ilahi, Wahai orang yang diutus kepada kami, engkau telah membawa sesuatu yang harus kami taati. Setiap orang ingin agar Nabi SAW singgah dan menginap di rumahnya. Tetapi Nabi SAW hanya berkata “Aku akan menginap dimana untaku berhenti. Biarkanlah dia berjalan sekehendak hatinya.”

Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal dan Suhail, di depan rumah milik Abu Ayyub al-Anshari. Dengan demikian Nabi SAW memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara. Tujuh bulan lamanya Nabi SAW tinggal di rumah Abu Ayyub, sementara kaum Muslimin bergotong-royong membangun rumah untuknya.

Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota nabi). Orang sering pula menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota yang bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia.

 

  1. 1. Tahap Pertama : Membangun Masyarakat Baru

Langkah pertama yang dilakukan oleh Rasulullah Saw adalah membangun Masjid Nabawi, beliau memilih tempat dimana untanya berhenti ketika pertama kali beliau tiba. Beliau membeli tanah tersebut dari dua orang anak yatim. Beliau langsung turun tangan dalam pembangunan masjid tersebut, beliau memindahkan bata dan bebatuan sambi berkata, “Ya Allah, tidak ada kehidupan yang lebih baik, kecuali kehidupan akhirat. Maka anugerahkanlah ampunan-Mu bagi kaum Anshar dan Muhajirin.”

Di tempat dibangunnya masjid tersebut terdapat kuburan kaum Musyrikin, disana juga terdapat puing-puing bangunan, pohon kurma, dan sebuah pohon maka Rasulullah Saw memerintahkan untuk menggali kuburan tersebut, meratakan puing-puing, memotong pohon, dan menetapkan arah kiblat yang saat itu masih menghadap ke Baitul Maqdis. Dua pinggiran pintunya terbuat dari bebatuan, dinding-dindingnya dari batu yang disusun dan direkatkan oleh lumur tanah, lantainya dibuat dari pasir dan kerikil-kerikil kecil. Pintunya ada tiga. Panjang bangunan ke arah kiblat hingga ujungnya ada seratus hasta dan lebarnya juga hampir sama. Adapun, pondasinya kurang lebih tiga hasta.

Kedudukan masjid tidak hanya dipergunakan untuk melaksanakan sholat saja, disana juga menjadi pusat aktivitas kaum Muslimin dalam menggelar ta’lim dan pengajaran Islam serta bimbingan-bimbingan lainnya.

Disamping pembangunan masjid serta menjadikannya sebagai sentral pemersatu bangsa. Rasulullah Saw juga mengambil langkah lain  yaitu dengan Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di dalam Islam), yaitu antara kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah) dan Anshar (penduduk Madinah yang masuk Islam dan ikut membantu kaum Muhajirin).  Nabi SAW mempersaudarakan individu-individu dari golongan Muhajirin  dengan individu-individu dari golongan Anshar.

Misalnya, Nabi SAW mempersaudarakan Abu Bakar dengan Kharijah bin Zaid,  Ja’far bin Abi Thalib dengan Mu’az bin Jabal. Dengan demikian diharapkan masing-masing orang akan terikat dalam suatu persaudaraan dan kekeluargaan. Dengan persaudaraan yang semacam ini pula, Rasulullah telah menciptakan suatu persaudaraan baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan keturunan.

Setelah Rasulullah Saw berhasil menancapkan dasar-dasar pembentukkan masyarakat serta umat Islam yang baru di Madinah, yaitu dengan menegakkan kekuatan akidah, politik serta kehidupan orang-orang Muslim. Beliau mulai menggalang kekuatan dengan kelompok non-Muslim. Tujuan beliau adalah untuk menciptakan keamanan, perdamaian juga untuk membuat tatanan kehidupan yang tunggal di seluruh penjuru.

Kelompok non-Muslim terdekat di Madinah adalah kelompok Yahudi. Walaupun mereka memiliki kebencian dan dendam terhadap kaum Muslimin, mereka tidak berani menampakkannya. Perjanjian itu disebut dengan Misaq Madinah atau Piagam Madinah yang berisi mengenai kebebasan beragama, hak dan kewajiban masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban negerinya, kehidupan sosial, persamaan derajat, dan disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjadi kepala pemerintahan di Madinah.

  • Perang Badar

Perang Badar terjadi pada 7 Ramadhan, dua tahun setelah hijrah. Ini adalah peperangan pertama yang mana kaum Muslim (Muslimin) mendapat kemenangan terhadap kaum Kafir dan merupakan peperangan yang sangat terkenal karena beberapa kejadian yang ajaib terjadi dalam peperangan tersebut. Rasulullah Shallalaahu ‘alayhi wa sallam telah memberikan semangat kepada Muslimin untuk menghadang khafilah suku Quraish yang akan kembali ke Mekkah dari Syam. Muslimin keluar dengan 300 lebih tentara tidak ada niat untuk menghadapi khafilah dagang yang hanya terdiri dari 40 lelaki, tidak berniat untuk menyerang tetapi hanya untuk menunjuk kekuatan terhadap mereka. Khafilah dagang itu lolos, tetapi Abu Sufyan telah menghantar pesan kepada kaumnya suku Quraish untuk datang dan menyelamatkannya. Kaum Quraish maju dengan pasukan besar yang terdiri dari 1000 lelaki, 600 pakaian perang, 100 ekor kuda, dan 700 ekor unta, dan persediaan makanan mewah yang cukup untuk beberapa hari.

Melihat perkembangan yang mengkhawatirkan dan tidak terduga ini, Rasulullah Saw menggelar musyawarah militer tinggi. Beliau mengisyaratkan posisi yang harus dipertaruhkan mati-matian. Saat itu, memang ada kaum Muslimin yang menjadi kecil hati dan menjadi gentar untuk menghadapi peperangan tersebut.

Namun, para komandan pasukan seperti Abu Bakar dan Umar sama sekali tidak terlihat gentar, semangatnya tidak mengendur dan lebih baik maju terus. Saat itu Miqdad bin Amr berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, teruslah maju seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Demi Allah, kami akan tetap bersamamu. Kami tidak akan mengatakan seperti apa yang pernah dikatakan oleh bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Pergi engkau sendiri bersama Rabb-mu lalu berperanglah kalian berdua. Kami ingin duduk menanti saja disini.’ Tapi kami akan mengatakan , ‘Pergilah engkau bersama Rabb-mu dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami akan berperang bersama kalian berdua.’ Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, niscaya kami pun siap bertempur bersama engkau hingga bisa mencapai tempat itu.”

Tak lama setelah mendengar itu Rasulullah terdiam dan kaum Anshar merasakan apa yang dimaksud Rasulullah. Sa’ad berkata, “Wahai utusan Allah, kami telah mempercayai bahwa engkau berkata benar, Kami telah memberikan kepadamu kesetiaan kami untuk mendengar dan thaat kepadamu. Demi Allah, Dia yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau memasuki laut, kami akan ikut memasukinya bersamamu dan tidak ada seorangpun dari kami yang akan tertinggal di belakang. Mudah-mudahan Allah akan menunjukkan kepadamu yang mana tindakan kami akan menyukakan mu. Maka Majulah bersama-sama kami, letakkan kepercayaan kami di dalam keberkahan Allah”.

Rasulullah sangat menyukai apa yang disampaikan dan kemudian beluai bersabda, “Majulah ke depan dan yakinlah yang Allah telah menjajikan kepadaku satu dari keduanya (khafilah dagang atau perang), dan demi Allah, seolah olah aku telah dapat melihat pasukan musuh terbaring kalah”. Pasukan Muslimin bergerak maju dan kemudian berhenti sejenak di tempat yang berdekatan dengan Badar (tempat paling dekat ke Madinah yang berada di utara Mekah). Seorang sahabat nabi, Hubbab bin Mundzir memberikan saran agar pasukan Muslimin sebaiknya bermarkas lebih ke selatan tempat yang paling dekat dengan sumber air, kemudian membuat kolam persediaan air untuk mereka dan menghancurkan sumber air yang lain sehingga dapat menghalang orang kafir Quraish dari mendapatkan air. Rasulullah SAW menyetujui usulan tersebut dan melaksanakannya. Kemudian Sa’ad bin Muadh mengusulkan untuk membangun benteng untuk Rasulullah SAW untuk melindungi beliau dan sebagai markas bagi pasukan Muslimin. Rasulullah SAW dan Abu Bakar ra. tinggal di dalam benteng sementara Sa’ad bin Muadh dan sekumpulan lelaki menjaganya.

Rasulullah SAW telah menghabiskan sepanjang malam dengan berdoa dan beribadah walaupun beliau SAW mengetahui bahwa Allah SWT telah menjanjikannya kemenangan.

  • Perang Uhud

Perang Uhud merupakan peperangan yang menimbulkan banyak korban dari kaum Muslimin dan Quraisy. Dan peperangan inilah yang membuat citra kaum Muslimin di Madinah yang semula sudah mulai stabil dan tak ada lagi pihak yang merongrongnya, sekarang sudah hampir pula goncang dan goyah.

Kekalahan ini disebabkan karena pada saat kemenangan sementara pada perang Uhud, kaum Muslimin sekarang memperebutkan rampasan perang. Hal ini membuat mereka lupa mengikuti terus jejak musuh, karena sudah mengharapkan kekayaan duniawi. Lalu mereka berselisih. Ketika itu juga tampil Abdullah bin Jubair berpidato agar jangan mereka itu melanggar perintah Rasul. Tetapi mereka sebahagian besar tidak patuh. Mereka berangkat juga. Yang masih tinggal hanya beberapa orang saja, tidak sampai sepuluh orang. Seperti kesibukan Muslimin yang lain, mereka yang ikut bergegas itu pun sibuk pula dengan harta rampasan. Harta rampasan sedemikan banyaknya, sehingga hal tersebut mulai menarik perhatian barisan pertahanan belakang yang menyaksikan perebutan ghanimah itu. Disinilah awal bencana dimulai. Sebagian besar anggota barisan pemanah tersebut mulai tergoda ingin ikut larut dalam perebutan ghanimah. Maka mereka mengambil keputusan untuk bergabung dan mengumpulkan ghanimah bersama pasukan garda depan.

Hal tersebut dicegah oleh pimpinan pasukan barisan belakang. Namun cegahan tersebut dibantah dengan alasan bahwa saat itu mereka sudah menang. Maka setidaknya menurut mereka, pesan Rasulullah saw sudah tidak relevan di saat itu. Karena pesan Rasulullah saw ditujukan ketika masih berlangsungnya perang, bukan di saat sudah menang perang. Sehingga pasukan barisan belakang bubar, hanya tinggal 10 orang pemanah saja yang tetap berpegang kepada pesan Rasulullah saw agar tidak meninggalkan barisan.

Kemudian tiba-tiba Khalid bin Whalid mengambil kesempatan dengan memyuruh pasukan Mekah untuk menyerang kaum Muslimin yang sedang berselisih memperebutkan rampasan perang. Kaum Muslimin yang sedang berselisih kemudian lari kocar-kacir menghadapi kaum Quraisy sendiri hingga ada yang tidak sengaja menghunuskan pedangnya sendiri kepada kaum Muslimin lainnya.

Setelah peperangan itu berakhir banyak sekali kaum Muslimin yang menjadi korban termasuk paman Rasulullah yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib. Jasad paman Rasulullah ini dianiaya oleh Hindun binti ‘Utba, ia membedah perut Hamzah lalu mengeluarkan jantungnya, lalu dikunyahnya dengan giginya, tapi ia tidak bisa menelannya. Abu Sufyan yang mengetahui perbuatan kaumnya ini menyatakan lepas tangan dari perbuatan itu. Keesokan harinya setelah peristiwa Uhud – yang terjadi pada malam 16 Syawal (tahun ke 5 Hijrah) – salah seorang muazzin Nabi berseru kepada Muslimin dan mengerahkan mereka supaya bersiap-siap menghadapi musuh dan mengadakan pengejaran. Tetapi yang dimintanya hanya mereka yang pernah turut dalam peperangan itu. Setelah kaum Muslimin berangkat, pihak Abu Sufyan merasa ketakutan sekali, bahwa musuhnya yang dari Medinah itu sekarang datang dengan bantuan baru. Tidak berani ia menghadapi mereka.

Sementara itu Muhammad pun sudah sampai pula di Hamra’ ‘l-Asad.8 Sedang Abu Sufyan dan teman-temannya berada di Rauha’. Waktu itu Ma’bad al-Khuza’i lewat dan sebelumnya ia sudah pula lewat di tempat Muhammad dan rombongannya itu. Ia ditanya oleh Abu Sufyan tentang keadaan mereka itu, yang oleh Ma’bad – ketika itu ia masih dalam syirik -dijawab: “Muhammad dan sahabat-sahabatnya sudah berangkat mau mencari kamu, dalam jumlah yang belum pernah kulihat semacam itu. Orang-orang yang dulunya tidak ikut, sekarang mereka menggabungkan diri dengan dia. Mereka semua terdiri dari orang-orang yang sangat geram kepadamu, orang-orang yang hendak membalas dendam.”

  • Perang Khandaq

Pertempuran Khandaq terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah atau pada tahun 627 Masehi, yaitu pengepungan Madinah oleh pasukan gabungan antara kaum kafir Quraisy makkah dan yahudi bani Nadir (al-ahzaab), sehingga dikenal juga sebagai Perang Ahzab. Untuk melindungi Madinah dari serangan gabungan, maka dibuatlah parit sebagai strategi berperang untuk menghindari serbuan langsung dari pasukan Al-Ahzab Quraisy dan bani Nadir. Strategi pembuatan parit di sela sela daerah yang tidak terlindungi oleh pegunungan sebagai tempat perlindungan adalah strategi dari sahabat Rasulullah Saw bernama Salman al-Farisi yang berasal dari Persia, sehingga perang ini disebut dengan pertempuran parit / khandaq. Sejatinya strategi ini berasal dari Persia, yang dilakukan apabila mereka terkepung atau takut dengan keberadaan pasukan berkuda.

Lalu digalilah parit di bagian utara Madinah selama sembilan/sepuluh hari. Pasukan gabungan datang dengan kekuatan 10.000 pasukan yang siap berperang. Pasukan gabungan membuat kemah di bagian utara Madinah, karena di tempat itu adalah tempat yang paling tepat untuk melakukan perang. Pada Pertempuran Khandaq, terjadi pengkhianatan dari kaum Yahudi Bani Qurayzhah atas kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya untuk mempertahankan kota Madinah, tetapi bani Quraizhah mengkhianati perjanjian itu.

Setelah terjadi pengepungan selama satu bulan penuh Nua’im bin Mas’ud al-Asyja’I yang telah memeluk Islam tanpa sepengetahuan pasukan gabungan dengan keahliannya memecah belah pasukan gabungan. Lalu Allah SWT mengirimkan angin yang memporakporandakan kemah pasukan gabungan, memecahkan periuk-periuk mereka, dan memadamkan api mereka. Hingga akhirnya pasukan gabungan kembali ke rumah mereka dengan kegagalan menaklukan kota Madinah. Setelah peperangan itu, Rasulullah dan para sahabat berangkat menuju kediaman bani quraizah untuk mengadili mereka.

  • Perjanjian Hudaibiyyah
  1. Rasulullah Saw harus pulang tahun ini. Tidak boleh masuk Mekah, kecuali tahun depan bersama orang-orang Islam dan boleh menetap disana selama 3 hari. Tidak boleh membawa senjata, kecuali senjata yang biasa dibawa dalam perjalanan seperti pedang yang disarungkan. Sedangkan orang-orang Quraisy tidak boleh menghalangi mereka dengan cara apapun.
  2. Genjatan senjata antara dua belah pihak selama sepuluh tahun sehingga orang-orang merasa aman dan satu pihak tidak boleh menyerang pihak lain.
  3. Bagi siapa saja yang ingin bergabung dengan Muhammad bersama dengan perjanjiannya, maka booleh masuk. Bagi siapa saja yang ingin bergabung dengan orang-orang Quraisy beserta dengan perjanjiannya makan boleh masuk. Kabilah manapun yang ikut bergabung dengan pihak yang dipilihnya, maka kabilah tersebut menjadi bagian dari pihak tersebut. Sehingga serangan pada kabilah tertentu itu mengandung arti serangan kepada pihak yang  dipilihnya.
  4. Siapa saja yang mendatangi Muhammad tanpa izin dari walinya (artinya melarikan diri), maka dia harus dikembalikan kepada orang-orang Quraisy. Barangsiapa dari pihak Muhammad yang datang kepada Quraisy (artinya melarikan diri) tidak akan dikembalikan lagi.

 

  1. 2. Tahap Kedua : Babak Baru Dalam Dakwah

Sekembalinya Rasulullah Saw dari Hudaibiyyah atau pada penghujung tahun ke 6 H, Rasulullah Saw menulis surat yang ditujukan kepada beberapa raja yang isinya menyeru mereka untuk masuk ke dalam agama Islam.

Ketika penulisan surat itu dimulai, ada seseorang yang memberitahukan beliau bahwa para raja tidak akan membaca surat itu jika tidak disertai dengan cincin sebagai stempel. Maka Rasulullah membuat cincin stempel itu dari perak. Disana ditulis Muhammad Rasul Allah. Tulisan ini ditulis dengan susunan berikut : Beliau menugaskan beberapa sahabat yang cukup mempunyai pengetahuan dan pengalaman sebagai utusan, yang kemudian diutus untuk menemui raja-raja. Al-Alamah al-Manshurfury memastikan bahwa beliau mengirim para utusan ini pada bulan Muharram tahun ke 7 H, beberapa hari sebelum pergi ke Khaibar.

  • Fathu Mekkah

Pembebasan Mekkah (bahasa Arab: فتح مكة, Fathu Makkah) merupakan peristiwa yang terjadi 20 Ramadhan 8 H, dimana Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka’bah.

Pada tahun 628, Quraisy dan Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaybiyah. Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Mekkah dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian Hudaybiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya Bani Bakr, menyerang Bani Khuza’ah yang merupakan sekutu Muslim.

Pada saat itu musyrikin Quraisy ikut membantu Bani Bakr, padahal berdasarkan kesepakatan damai dalam perjanjian tersebut dimana Bani Khuza’ah telah bergabung ikut dengan Nabi Muhammad SAW dan sejumlah dari mereka telah memeluk islam, sedangkan Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy.

Abu Sufyan, kepala suku Quraisy di Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu, tetapi Nabi Muhammad SAW menolak, Abu Sufyan pun pulang dengan tangan kosong. Sekitar 10.000 orang pasukan Muslim pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan damai. Muhammad bermurah hati kepada pihak Mekkah, dan memerintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar dan di dalam Ka’bah.

Pemimpin pasukan

Tanggal 10 Ramadhan 8 H, Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kota Madinah diwakilkannya kepada Abu Ruhm Al-Ghifary.

Ketika sampai di Dzu Thuwa, Nabi Muhammad SAW membagi pasukannya, yang terdiri dari empat bagian, masing-masing adalah:

  1. Khalid bin Walid memimpin pasukan untuk memasuki Mekkah dari arah selatan,
  2. Zubair bin Awwam memimpin pasukan memasuki Mekkah bagian atas dari bukit Kada’ atau dari arah utara, dan menegakkan bendera di Al-Hajun,
  3. Abu Ubaidah bin al-Jarrah memimpin pasukan dari tengah-tengah lembah hingga sampai ke Mekkah, dan
  4. Qa’is bin Sa’ad bin Ubadah masuk melalui sebelah barat Mekkah.

Serangan tiba-tiba  itu benar-benar membuat kaum Quraisy tak bisa berkutik. Mereka serasa dipukul besi dingin. Akhirnya Rasulullah Muhammad SAW berhasil masuk dan menguasai kota Mekkah tepat pada 20 Ramadhan 8 H, sembari membaca danmengulang-ulang surat An-Nashr:

“1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,

2.dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
3. maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. 110:1-3)

Dari Al-Hajun Nabi Muhammad memasuki Mesjid Al-Haram dengan dikelilingi kaum Muhajirin dan Anshar. Setelah thawaf mengelilingi Ka’bah, Nabi Muhammad mulai menghancurkan berhala dan membersihkan Ka’bah, sembari melantunkan ayat:

QS Al-Israa:81

“Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. 17:81)

Dan selesailah pembebasan Mekkah. Setelah berhala-berhala itu dibersihkan dari Ka’bah, Nabi menyuruh Bilal menyerukan azan dari atas Ka’bah. Sesudah itu orang melakukan sembahyang bersama dan Muhammad sebagai imam. Sejak saat itu, sampai masa kita sekarang ini, selama empatbelas abad, tiada pernah terputus Bilal dan pengganti-pengganti Bilal terus menyerukan azan, lima kali setiap hari, dari atas mesjid Mekah. Sejak saat itu, selama empatbelas abad sudah, kaum Muslimin menunaikan kewajiban salat kepada Allah dan selawat kepada Rasul, dengan menghadapkan wajah, kalbu dan seluruh pikiran kepada Allah semata, dengan menghadap Rumah Suci ini, yang pada hari pembebasannya itu oleh Nabi Muhammad SAW telah dibersihkan dari patung-patung dan berhala-berhala.

  1. 3. Tahap Ketiga : Perjuangan Akhir Rasulullah

Perang penaklukan Mekkah merupakan peperangan yang sangat menentukan, yang dengannya paganisme terhapus sama sekali. Bangsa Arab mulai bisa membedakan mana yang hak dan mana yang bathil. Tidak ada lagi keraguan dalam diri mereka. Oleh karena itulah, mereka bergegas memeluk Islam.

Hadist menunjukkan sejauh mana pengaruh dari penaklukan Mekah terhadap perkembangan selanjutnnya kedudukan Islam, penentuan sikap yang diambil oleh orang-orag Arab serta kepasrahan mereka untuk memeluk Islam. Kenyataan ini semakin dipertegas setelah Perang Tabuk.

Setelah Rasulullah Saaw kembali dari Perang Tabuk, datanglah beberapa surat dari beberapa Raja Himyar. Diantara mereka adalah al-Harits bin Abdul Kulal, Na’im bin Abdul Kulal, Nu’man bin Qail Dzu Ru’ain, Hamdan, dan Mu’afir. Adapun, utusan yang dikirim untuk menemui beliau adalah Malik bin Murrah ar-Rahawi. Mereka mengutus Malik kepada beliau untuk menyatakan bahwa mereka masuk Islam dan bersedia meninggalkan kemusyrikan serta para pendukungnya.

Maka Rasulullah membalas surat mereka dengan mengirimkan surat yang isinya menjelaskan tentang hak dan kewajiban antara mereka dengan orang-orang mukmin. Beliau juga memberikan jaminan perlindungan bagi mereka, dalam perjanjian itu disebutkan bahwa mereka berada dalam jaminan Allah dan Rasul-Nya. Orang-orang yang mengikat perjanjian dari kalangan non-Muslim harus memenuhi kewajiban membayar jizyah.

Pada saat dakwah sudah sempurna dan Islam sudah tersebar memasuki setiap sudut, tanda-tanda perpisahan dengan Nabi Saw mulai terlihat dan dapat ditangkap dari sabda dan perbuatan beliau.

Rasulullah Saw melakukan i’tikaf pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriah selama 20 hari  penuh, padahal beliau belum pernah melaksanakan i’tikaf seperti itu, kecuali hanya sepuluh hari saja. Jibril pun turun mengetes al-Quran dari beliau hingga dua kali. Ketika haji wada’, lalu beliau bersabda, “Aku tidak tahu, apakah setelah tahun ini aku masih bisa bertemu dengan kalian lagi dalam keadaan sekarang.”

Pada saat Jumrah Aqabah beliau juga bersabda, “Pelajarilah manasik kalian dariku, boleh jadi aku tidak akan menunaikan haji lagi setelah tahun ini.”

Kemudian pada pertengahan hari-hari Tasyrik turunlah wahyu surah an-Nashr. Semua ini dapat dikenali sebagai perpisahan yang diisyarakatkan oleh beliau. Rasulullah wafat pada bulan Juni tahun 632 M. Hari itu bertepatan dengan hari senin tanggal 11 Rabiul Awal tahun 12 Hijrah. Beliau wafat pada usia 63 tahun lebih empat hari.

Referensi         :

  • rasulullahsaw.atwiki.com
  • Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurrahman. Shahih Sirah Nabawiyah. Darul Aqidah. 2007. Bandung
  • fajardawn.blogspot.com
  • blog.re.or.id
  • pakarfisika.wordpress.com
  • http://www.google.co.id

 

3 Comments

  1. marthen nenoliu

    Terimakasih dan maaf sya kopi untuk bahan ajar

  2. Makasih ya ukhti ilmunya ^-^

  3. Marthen Nenoliu : sama2 ^^.. boleh dicopy asal cantumkan sumbernya
    Muftia Hanani : sama2 ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: