Putri Kalila

PUTRI KALILA

Kenangan yang indah kini tengah melayang di kepala gadis remaja yang baru berusia 17 tahun ini. Kenangan indah saat bersama ibunya tak akan pernah ia lupakan. Ia teringat dimana saat ia kecil, ibunya selalu menjaganya, selalu merawatnya saat ia sakit bahkan saat beliau sedang tidak enak badanpun ia rela menemani anak satu-satunya itu. Memang sejak satu tahun yang lalu, beliau harus merawat anaknya sendirian karena suaminya entah pergi kemana. Beliau sangat tegar menghadapi semua ini. Padahal beliau harus menjadi ibu sekaligus ayah dalam keluarga kecilnya. Beliau harus mencari pekerjaan untuk menghidupi anak gadis satu-satunya yang masih sekolah ini. Tak peduli pekerjaan itu ringan atau berat pasti ia jalani asal pekerjaan itu adalah pekerjaan yang halal. Saat itu beliau mencoba pekerjaan menjadi seorang penyapu jalanan. Di terik panas matahari siang itu, ia harus menyapu jalanan yang kotornya minta ampun. Apalagi jika ia sudah capek-capek membersihkan jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang lewat dan dengan mudahnya orang itu membuang sampah keluar jendela tapi beliau tetap sabar dan ikhlas menjalani ini semua. Meskipun setelah selesai dengan pekerjaannya, beliau hanya digaji sebesar lima ribu rupiah saja. Saat beliau sedang istirahat, ada seorang gadis remaja yang berpakaian putih abu-abu mendekatinya. “Ibu, ini Kalila bawakan makanan dan minuman untuk ibu.” ucap gadis itu seraya memberikan dua bungkusan pada ibunya. Tampak senyum mengembang dari wajah lelah beliau yang sedang duduk dibawah pohon. Sepertinya rasa lelah dan letihnya hilang saat melihat anak gadisnya menghampirinya dengan wajah yang ceria. Saat beliau ingin membuka makanan, tiba-tiba Kalila meraih bungkusan itu dengan lembut. “Lebih baik Kalila buka makanan itu untuk ibu. Ibu pasti sangat capek dan letih karena seharian harus bekerja seperti ini. Kalila ingin meringankan beban ibu dengan bekerja tapi ibu tidak memperbolehkannya. Maafkan Kalila, ibu!” ucapnya lirih.

“Kenapa kau meminta maaf, Nak? Ibu sudah biasa seperti ini. Lagipula ini adalah tanggungjawab ibu sebagai ibu sekaligus kepala keluarga. Kau tidak perlu bekerja, Nak! Yang harus kau lakukan adalah belajar dengan rajin agar kau sukses dan bisa membahagian ibumu yang sudah tua ini, Nak. Biarkan ibu yang bekerja, ibu ikhlas Nak asal kau juga harus belajar yang rajin. Buatlah ibumu ini bangga, Nak!” ucap beliau lirih dengan suaranya yang agak parau.

Kalila menyerahkan bungkusan makanan dan minuman yang sudah dibukanya kepada ibunya dengan halus. “Iya bu. Insya Allah Kalila akan serius belajar dan akan berusaha untuk membahagiakan ibu. Kalila ingin menjadi kebanggaan ibu. Kalila akan melakukan apapun untuk ibu.” jawabnya lirih tapi dengan nada yang tegas. “Baiklah, lebih baik ibu makan dahulu. Kalila tidak ingin ibu sakit dan akhirnya ibu tidak bisa bekerja lagi. Bukankah ibu tidak ingin aku bekerja? Sebenarnya aku ingin membantu dan meringankan beban ibu. Kalila juga bisa bekerja. Pekerjaan apapun akan Kalila lakukan asal pekerjaan itu halal, seperti nasihat ibu. Bahkan kalau Kalila harus putus sekolah untuk membantu dan merawat ibu, Kalila ikhlas.”

“Jangan bicara seperti itu, Nak! Ibu tidak menyukainya. Kau harus tetap sekolah. Biarkan ibu saja yang hidup seperti ini. Ibu tidak mau nantinya kau juga hidup susah seperti ibumu ini. Ibu tidak mau itu. Jangan ucapkan keinginanmu itu lagi. Janji pada ibumu ini, bahwa kau tak akan mengecewakan ibumu.”

“Maafkan Kalila ibu karena telah berbicara seperti itu. Maafkan Kalila. Baiklah, Kalila janji tidak akan mengecewakan ibu! Kalila janji!” ucapnya seraya memeluk ibunya.

Tak terasa mendung pun menggelayuti mata sayu ibunya. Mata yang sebelumnya cerah kini berubah menjadi mendung. Bukan mendung karena kesedihan tapi karena suasana yang haru akan ucapan anak gadisnya. Tak terasa bulir-bulir air mata pun jatuh. “Iya Nak. Ibu memaafkanmu!”

***

Beberapa hari ini Kalila bekerja paruh waktu di sebuah rumah makan dan terkadang pagi-pagi sekali ia sudah bangun dan keluar untuk mengantar koran. Pekerjaan yang ia lakukan ini adalah tanpa sepengetahuan ibunya. Kalau ibunya tahu hal ini tentu ia akan diminta untuk berhenti bekerja. Kalila tidak bermaksud untuk melanggar perintah ibunya untuk tidak bekerja, hanya saja ia ingin mendapatkan uang untuk membeli gamis baru untuk ibunya. Baju-baju ibunya sudah banyak yang lusuh dan mungkin sudah tidak pantas pakai. Ia ingin membelikan pakaian yang pantas untuk ibunya dan ia ingin melihat ibunya terlihat cantik dan anggun ketika memakai gamis pemberiannya. Ketika ia ditanya ibunya kenapa jika beliau bangun anak gadisnya sudah tidak ada dirumah? Kalila hanya bisa menjawab karena ia ingin pergi jalan-jalan pagi untuk menghirup udara segar sehingga membuatnya bisa berpikir jernih. Saat ia menjawab seperti itu, hatinya menjerit seolah tidak rela membohongi ibunya padahal ia sudah berjanji tidak akan bekerja. Tapi apa boleh buat, Kalila hanya ingin membuat ibunya bahagia. Baginya kebahagiaan ibunya adalah segalanya. Jika ia tidak bekerja, darimana ia bisa mendapatkan uang untuk membeli gamis untuk ibunya?

Suatu ketika saat beliau sedang menyapu di jalan, ia melihat seorang gadis muda yang sedang melayani pelanggan di sebuah restoran. Wajah beliau berubah menjadi merah seakan sedang marah dan ia tak ingin melihat adegan seorang gadis itu melayani pelanggan di restoran itu. Kemudian beliau memutuskan untuk pergi ke restoran itu dan menghampiri gadis muda itu. Tapi saat di depan pintu restoran, beliau ditahan oleh seorang penjaga pintu. “Maaf, kau tidak boleh masuk!” ucap penjaga pintu itu.

Ucapan penjaga pintu itut tak membuat wanita setengah tua ini menyerah. Ia ingin bertemu dengan gadis muda itu. “Saya tetap ingin tidak boleh masuk. Kenapa saya tidak boleh masuk?”

Penjaga pintu itu menggelengkan kepalanya. “Apakah kau tidak berkaca? Kau berpakaian sangat lusuh. Saya tidak akan membiarkanmu masuk dan nantinya akan membuat selera makan pelanggan-pelanggan kami hilang. Lebih baik kau pergi sekarang. Saya tidak mau berbuat kasar padamu. Saya juga mempunyai ibu dirumah, jadi jangan buat saya untuk berbuat kasar. Saya mohon!”

Ucapan penjaga itu merasuk ke dalam hati wanita setengah tua ini, akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi dari restoran tanpa menemui gadis muda itu. Dalam hatinya ia merasa marah dan kesal. Bagaimana bisa gadis muda yang lugu itu membohonginya? Bukankah ia sudah berjanji untuk tidak bekerja? Tapi kenapa ia bisa melanggar janji itu? Janji kepada ibu kandungnya sendiri. Apa yang sedang ia pikirkan? Beliau pun kemudian terduduk di atas batu dibawah pohon bersama teman-temannya sesama penyapu jalan. Teman-temannya sedang menyantap makan siang yang mungkin hanya sebungkus nasi dengan tahu dan tempe saja tapi itu bisa menghapus raut kelelahan di wajah mereka karena sudah menyapu jalan dengan ikhlas. Tetapi wanita setengah tua itu tak menyentuh makanannya, ia hanya termenung memikirkan kejadian di restoran saat ia melihat anak gadisnya menjadi pelayan. “Kenapa kau tidak makan makananmu?” tanya salah satu temannya.

Lamunannya terpecah. “Ah, saya hanya kurang enak badan. Silahkan kalian makan dan jangan hiraukan saya!” jawabnya lirih dan termenung lagi.

Seakan mengerti, temannya tak ingin membiarkan wanita setengah tua ini merenung sendirian. Ia pun duduk disampingnya. “Ada apa denganmu? Kau memikirkan anak gadismu lagi?” tanyanya langsung.

Beliau kaget dan teringat kembali kejadian di restoran itu. “Ya. Saya melihat Kalila menjadi pelayan di restoran mewah di ujung jalan itu. Aku sudah melarangnya untuk bekerja dan dia pun sudah berjanji untuk menurutinya tapi apa apa yang saya lihat hari ini adalah dia tidak menepati janjinya.”

Temannya menghela napas pendek. “Lebih baik kau tanyakan terlebih dahulu pada anak gadismu apa alasannya melanggar janjinya padamu. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan! Jika kau terlalu memikirkan hal itu, nantinya hanya akan membuatmu jatuh sakit dan kau pun tidak bisa bekerja dan akhirnya anakmu juga kan yang akan bekerja?”

***

Setelah selesai bekerja di restoran, Kalila segera bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Meskipun rumahnya hanya berukuran kecil tapi didalamnya terdapat kehangatan sebuah keluarga. Saat ia masuk, ia sangat terkejut melihat ibunya sedang menangis. Apa yang sedang terjadi pada ibunya? Dia berlari mendekati ibunya. “Ibu, kenapa ibu menangis?” tanya Kalila lembut seraya mengusap air mata di pipi beliau.

Beliau menatap anak gadisnya dengan pandangan yang dalam dan masih terdiam tak menjawab pertanyaan anak gadisnya. “Ibu… Ibu kenapa seperti ini?? Apa yang sedang terjadi??” tanya Kalila sekali lagi dengan suara yang lirih.

Beliau menghela napas panjang. “Apa yang kau lakukan dibelakang ibumu?” tanya beliau langsung. Kalila tidak langsung menjawab karena ia memang belum mengerti apa yang ibunya maksud. “Kenapa kau membohongi bu, Nak? Bukankah ibu sudah melarangmu untuk bekerja tapi kenapa kau tetap bekerja? Ibu sakit melihat kau bekerja. Cukup ibu saja yang bekerja. Ibu tidak ingin kau menjadi pelayan di restoran itu.”

Kalila kini mengerti apa yang membuat ibunya menangis. Tak terasa mendung mulai menggelayuti mata indahnya. Bulir-bulir air mata mulai membasahi kedua pipinya yang lembut. “Maafkan Kalila ibu karena telah membuat ibu menangis. Tapi bukankah pekerjaan menjadi pelayan itu halal?”

“Memang pekerjaan itu halal tapi kau sudah berjanji pada ibumu yang sudah renta ini untuk tidak bekerja. Kau sudah berjanji, Nak!”

“Baiklah, ibu. Maafkan Kalila. Kalila berjanji besok Kalila tidak akan bekerja lagi disana. Tapi bolehkah Kalila kesana untuk memberitahu bahwa Kalila sudah tidak bekerja disana lagi?” tanya Kalila lirih. Dia berharap ibunya memperbolehkannya untuk pergi ke restoran besok karena besok adalah tepat dua bulan Kalila bekerja disana dan saat untuk menerima gaji pun adalah besok.

Beliau menghela napas pendek. “Baiklah. Ibu mengijinkanmu untuk pergi kesana. Tapi tepatilah janjimu ini, Nak!”

***

Siang itu, seusai gadis muda ini menerima gaji di restoran mewah tempat ia bekerja ia langsung ingin pergi untuk membeli gamis untuk ibunya. Ia bersyukur gajinya itu bisa untuk membeli gamis meskipun hanya sebuah. Kalila menuju sebuah toko baju muslim dan melihat beberapa gamis yang cantik. Ia pun memilih gamis cantik yang berwarna merah marun. ‘Ya, ibu pasti cocok mengenakan gamis ini.’ ucapnya dalam hati.

Setelah dari toko baju muslim itu, Kalila berjalan untuk menyusul ibunya yang sekarang masih bekerja menyapu jalanan di beberapa blok dari tempat ia membeli gamis. Ia melangkahkan kakinya dengan ringan. Dari raut wajahnya terpancar kepuasan tersendiri. Ia telah bekerja dan bisa memberikan sesuatu untuk ibunya tercinta. Saat ia tiba disana, ia melihat ibunya sedang istirahat di seberang jalan. Kalila tidak melihat kanan kiri saat ia menyeberang dan akhirnya suara hantaman keras terdengar. Kalila terjatuh di pinggir jalan dan kepalanya terbentur jalan. Di kepalanya mengeluarkan darah tapi ia tak mempedulikannya. Ia bingung. Disampingnya banyak orang yang berkerumun mengelilingi sesuatu. Ia mencari-cari ibunya. Dimana ibunya?? Bukankah ia baru saja menyeberang untuk menghampiri ibunya yang berada di seberang jalan? Kalila berusaha untuk berdiri tapi tubuhnya masih lemas hingga ia terhuyung. Dia mencoba mendekati kerumunan itu dan napasnya seakan tercekat. Ia melihat seorang perempuan tua yang sedang terbaring berlumuran darah dan disampingnya terdapat bungkusan yang berisi gamis. “Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!” Kalila semakin lemas dan lemas hingga matanya terasa berat untuk tetap terjaga.

***

Diruangan sempit berukuran 4×4 meter, sudah lebih dari tiga bulan seorang perempuan muda ini harus menempati ruangan itu untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Sesekali ia berteriak memanggil-manggil ibunya yang sudah lama tiada. Dia pun masih menyimpan barang yang ingin ia berikan pada ibunya.

“Bagaimana keadaan gadis itu? Apakah ada kemajuan pada dirinya?” tanya seorang dokter pada perawat yang merawat gadis muda itu.

“Belum ada, dok! Keadaannya masih sama seperti keadaan saat ia pertama kali datang kesini. Ia masih merasa terpukul atas kepergian ibunya.” jelas perawat itu.

“Kasihan sekali gadis muda itu. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri saat kepergian ibunya yang tragis. Seharusnya saat ini ia bermain dengan teman-teman seusianya bukan terkurung disini dengan kondisi kejiwaannya yang terganggu. Uhm,siapa nama gadis muda itu?”

“Iya, dok! Saya juga prihatin melihat keadaannya. Nama gadis itu adalah Putri Kalila.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: