ARTI SEBUAH KASIH SAYANG

ARTI SEBUAH KASIH SAYANG

Naya terbangun dari tidurnya. Dia melihat jam beker yang berada di atas meja belajar menunjukkan pukul empat pagi. Biasanya jam segini dia masih terlelap dengan selimut tebal yang berwarna merah maron kesayangannya. Sudah tiga hari ini Naya mimpi buruk tentang masa lalunya dengan sang ayah. Sekarang Naya tinggal dengan orangtua angkatnya, Pak Wisnu dan Ibu Wisnu yang baik hati. Mereka rela merawat Naya yang sebenarnya sama sekali tidak mempunyai hubungan darah dengan Naya maupun dengan orangtua kandung Naya. Hanya sekali Naya melihat foto almarhumah ibunya tapi itu pun hanya di foto ukuran 3 x 4 saja. Dan sekarang Naya tidak mempunyai foto atau kenangan bersama ibu kandungnya. Almarhumah ibunya telah dipanggil Allah SWT saat beliau berjuang untuk melahirkan Naya ke dunia ini.

“Nay, bangun nak! Udah setengah enam lho!” terdengar suara lembut seorang wanita yang berumur sekitar 38 tahun. Dan dia ibu angkat Naya.

“Iya! Naya udah bangun kok, Ma!” teriak Naya dari dalam.

Tak lama Naya turun dan sudah memakai seragam lengkap. “Ma Pa, Naya langsung berangkat aja ya!” pamit Naya seraya mengambil sepotong roti kemudian berpamitan dengan papa mamanya serta mencium kedua pipi beliau.

“Iya. Hati-hati ya sayang!” balas mama lembut.

Di perjalanan dia bertabrakan dengan seorang cowok yang postur tubuhnya lumayan dan wajah yang juga bisa dibilang cakep. Cowok itu bukan anak seusia Naya tapi hanya selisih 2 atau 3 tahun saja darinya. Mungkin dia mahasiswa.

“Kamu punya mata nggak sih? Jalan nggak lihat-lihat!!” ucap cowok itu kesal seraya bangun dari tempat dia terjatuh.

“Kamu tuh yang nggak lihat-lihat! Orang aku segedhe gini, kamu nggak lihat malah main ditabrak aja. Bukannya kamu yang lari-larian kayak dikejar maling aja!” balas Naya panjang lebar tak mau kalah seraya ikut bangun dari dia jatuh.

Naya melihat cowok itu celingukan kesana kemari seperti ada seseorang yang mengejarnya sampai- sampai dia tidak menanggapi protes Naya.

“Hello! Kamu dengerin aku nggak sih?” tanya Naya sambil mengibas-ibaskan tangannya di depan muka cowok itu.

Tiba-tiba cowok itu menarik tangan Naya dan mengajaknya bersembunyi di balik pohon. Naya yang nggak tahu apa-apa spontan berontak dan berusaha melepaskan pegangan cowok aneh itu tapi sayang pegangan cowok itu sangat erat. Dan saat Naya ingin berteriak, cowok itu malah menutup mulut Naya dengan tangannya. Saat itu juga ada sekelompok anak berandalan yang datang dan sedang bingung mencari seseorang.

“Sialan! Cepet banget larinya! Kalo ketemu, gue abisin dia!” kata seorang cowok yang membawa tongkat baseball.

Cowok itu melepaskan Naya ketika sekelompok berandalan itu pergi kemudian dia pun ikut pergi meninggalkan Naya yang masih terdiam.

“Hei, tunggu!” teriak Naya seraya mengejar cowok itu. “Kamu siapa sih? Seenaknya aja mengajakku dalam masalahmu yang aku nggak ngerti. Aku aja nggak tahu kamu siapa!”

Tak jauh terdengar bel sekolah Naya berbunyi. “Tuh masuk sana! Nanti terlambat lho! O iya makasih ya!” pamit cowok itu sambil sedikit memainkan matanya.

Hari itu Naya pergi ke sebuah toko musik dan ternyata dia bertemu dengan cowok itu lagi. “Kamu??” tanya Naya kaget. “Kamu ngapain disini? Dan urusan kita juga belum selesai ya! Kamu hampir bikin hidupku nggak karuan gara-gara kejadian waktu itu. Seenaknya aja bawa aku dalam masalahmu!”

Cowok itu tertawa kecil. “Kamu sama sekali nggak berubah ya sejak pertama kali kita ketemu. Kamu tetep aja cerewet dan pertanyaan kamu itu banyak banget sih. Satu-satu kenapa!”

Lambat laun mereka semakin dekat dan sudah seperti seorang kakak adik saja. Naya tidak menyangka kalau masa lalu Brian kelam. Dia pernah tersangkut kasus narkoba dan parahnya dia pernah memakai barang haram itu. Tapi sekarang dia sudah melepaskan pergaulannya itu. Dan Brian hampir di DO gara-gara kasus itu dan berbagai kenakalannya yang membuat dosen-dosennya kewalahan. Tapi ternyata dia mengundurkan diri lebih dulu.

Saat pulang ke rumah ternyata di rumah Naya sudah ada Pak Hadi, ayah kandung Naya. Naya yang masih merasa sakit hati dan kecewa langsung masuk kamar dan tidak menemui ayahnya.

“Maafkan Naya, Pak! Naya mungkin sedang capek.” jelas Bu Wisnu, “Maaf, saya mau menemui Naya sebentar!” pamit beliau sambil beranjak dari sofa.

“Saya yang bersalah pada Naya. Pantas kalau Naya bersikap seperti itu kepada saya.” kata Pak Hadi dengan suara yang lirih.

“Mungkin Naya memang sedang capek, Pak!” tambah Pak Wisnu.

Ibu Wisnu mengetuk kamar Naya ternyata tidak dikunci. Beliau mendekati Naya. “Kamu kenapa, Nak?” tanya beliau seraya membelai rambut Naya.

“Naya nggak apa-apa kok, Ma! Naya cuma capek.” jawab Naya sambil tersenyum.

“Terus tadi kenapa kamu tidak menemui ayahmu dulu, Nak? Ayahmu ke sini untuk menjengukmu. Dia ingin menemuimu, Nak!”

“Papa nggak mungkin mau menemuiku. Paling papa Hadi hanya ada perlu sama Mama atau Papa. Dia nggak pernah peduli sama Naya. Tahun ini aja kayaknya dia hanya sekali atau dua kali ke sini. Saat ulang tahun Naya aja dia nggak datang. Bahkan mungkin aja dia nggak ingat ulang tahun Naya. Naya kecewa, Ma!”

“Bagaimanapun juga dia itu papa kandung kamu, Nak! Kamu nggak boleh bersikap seperti itu.”

“Tapi kenapa papa Hadi dulu nggak mau merawat Naya sendiri? Kenapa malah mama dan papa yang merawat Naya? Padahal mama dan papa kan nggak ada hubungan apa-apa dengan papa Hadi.”

“Lebih baik kamu temui papa Hadi dulu. Tanya pada papa Hadi sendiri ya!” kata Ibu Wisnu kemudian mengajak Naya keluar untuk menemui Pak Hadi.

“Naya! Papa rindu padamu! Ternyata kamu sudah sebesar ini dan kamu sudah terlihat dewasa.” Pak Hadi mendekati Naya seakan ingin memeluknya tapi Naya menepisnya. “Papa tahu kamu marah dengan papa. Tapi papa mohon dengarkan penjelasan papa terlebih dahulu sayang!” Naya tetap tak berkutik. “Dulu papa sedang bangkrut saat kamu lahir dan papa semakin hancur saat mamamu meninggalkan papa untuk selamanya. Papa akhirnya menjadi pria yang tak baik. Papa takut kamu tidak akan memperoleh kasih sayang papa dan papa tidak mau kamu rusak hanya karena papa. Pak Wisnu, teman papa yang tidak mempunyai anak ingin merawatmu. Jadi papa yakin mereka akan menyayangimu dengan tulus. Dan papa lihat memang benar.”

Naya kaget mendengar penjelasan ayah kandungnya. “Apapun alasan papa. Papa nggak boleh melakukan itu. Kesalahan papa fatal. Papa hampir aja membuat hubungan ayah dan anak hancur.”

“Papa tahu cara ini salah tapi hanya ini satu-satunya pilihan yang terbaik untukmu sayang. Lebih baik papa merelakan kamu agar tidak mengenal papa sama sekali daripada kamu rusak hanya karena papa.”

Ucapan terakhir ayah kandungnya membuat Naya memeluk beliau. Ternyata Pak Wisnu ingin merelakan Naya kembali ke Pak Hadi saat dia lulus SMA nanti. Tapi Naya memutuskan untuk tetap tinggal bersama Ibu dan Pak Wisnu yang telah merawatnya selama ini. Setelah kejadian itu Naya sudah tidak pernah bertemu dengan ayah kandungnya lagi. Saat kelulusan Naya pun, hanya selembar surat dan sebuah kado yang mewakili sang ayah. Di meja belajar Naya terdapat foto saat kelulusannya. Dia tersenyum bahagia diapit oleh Pak Wisnu dan Ibu Wisnu. Disampingnya tergeletak sebuah kado berwarna merah dan tertera nama Brian di kado tersebut.

“Terima kasih ya Allah karena Kau telah mempertemukanku dengan orangtua yang sangat baik dan sangat menyayangiku. Dan aku berjanji tak akan membuat orang yang menyayangiku kecewa. Amin.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: