KETEGUHAN HATI MEMBAWA KEBERKAHAN

Kata-kata temanku kini tak ku dengar lagi, meskipun mereka dulunya adalah sahabat-sahabatku. Tapi untuk apa kalau mendengarkan celotehan dari sahabat yang tidak senang melihat sahabatnya berubah. Apakah itu bisa disebut dengan sahabat yang baik? Aku sudah mulai mengetahui bagaimana seluk beluk sahabat-sahabat yang dulunya selalu disampingku, selalu menemaniku saat aku senang pastinya tapi entah mereka akan tetap ada atau tidak saat aku jatuh dan putus asa. Seperti kejadian saat aku ingin berubah. Mereka dengan seenaknya mengolok-olokku. Pikiranku kemudian melayang ke kejadian seminggu yang lalu.

Pagi itu aku bersiap ingin pergi ke kampus dengan penampilan yang sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku menata diri di depan kaca, menghias diri agar terlihat cantik tentunya tapi aku tak merapikan rambutku yang sebelumnya tergerai panjang. Aku mengikat rambutku kemudian mulai memakai kain yang berwarna ungu untuk menutupi rambutku. Mungkin percaya atau tidak aku mulai belajar untuk mengenakan jilbab. Ya. Untuk pertama kalinya aku memakai jilbab tanpa paksaan dan tanpa karena harus mengikuti peraturan. Ya. Ini adalah keinginanku sendiri. Mama yang melihatku pun bertanya, “Kenapa hari ini kamu memakai jilbab?”

“Uhm… karena hari ini ada kegiatan yang mengharuskan ku untuk memakai jilbab, Ma.” jawabku bohong. Aku terpaksa berbohong akan hal ini, karena memang Mama tidak akan mungkin memperbolehkanku untuk memakai jilbab.

Mama hanya mengangguk-angguk seakan tidak bisa melarangku untuk memakai jilbab karena memang peraturannya harus memakai jilbab. Aku sedikit lega tapi juga merasa tidak enak karena harus berbohong dengan Mama tentang hal ini. Tapi apa boleh buat toh kalau aku jujur juga pasti akan dilarang. Saat aku ingin berangkat pasti aku berpamitan dengan orang tua. Papa yang melihatku memakai jilbab malah hanya diam saja, tidak berkomentar apapun. Aku menghela napas panjang. Inilah yang tak ku inginkan. Orang tua yang terkadang cuek dengan perubahan sikap anaknya. Aku harus segera berangkat ke kampus jika tidak ingin terlambat dan mungkin aku juga akan lupa masalahku di rumah jika aku sedang berada di kampus.

Sesampainya di kampus, yah seperti yang kuduga. Semua teman-temanku kaget melihat perubahan yang ada pada diriku. Sebagian temanku ada yang berkata, “Hei, dapat hidayah apa loe? Kok tiba-tiba berubah kayak gini?” tanya Mirzam padaku.”

Sebelum mulutku terbuka ingin menjawab pertanyaan Mirzam, tiba-tiba Agni datang dan langsung menyerbuku dengan pertanyaan yang beruntun. “Adia, ini beneran loe? Loe kesambet apa kok bisa kayak gini? Eh kembaliin Adia temen baik gue dong!”

“Huss!! Loe apa-apan sih, Agni! Harusnya loe bersyukur kalau Adia udah berubah. Bukannya malah loe komporin kayak gitu!” ucap Mirzam coba membelaku.

“Udah. Nggak apa-apa kok, Mirzam! Agni kan emang orang gila!” jawabku lirih seraya menyindir Agni.

“Adia??” panggil Mirzam lirih seraya mengernyitkan alis. Dan ini tandanya bahwa ia tak setuju dengan apa yang aku katakan.

Aku hanya tersenyum kecil tak berdosa.

“Aaaahhh!! Gue denger tuh apa yang loe omongin, Adia! Loe bilang gue ‘orang gila’! Wah, parah nih! Katanya loe udah berubah?”

“Udah-udah! Jangan diperpanjang masalah ini! Ayo, masuk! Lima menit lagi dosen kita datang!” sela Mirzam menengahi sebelum aku dan Agni akhirnya berantem.

Di kelaspun, suasana berubah. Semua teman-temanku terlebih para cewek-cewek memandangku dengan penuh keheranan. Mungkin dalam benak mereka terlintas ‘Kenapa aku bisa berubah? Kenapa aku menjadi seperti ini? Ada apa dibalik perubahanku? Apakah ini hanya perubahan yang bersifat sementara? Seorang Adia yang dulunya cewek jutek, kasar, dan tomboy berubah menjadi gadis yang berjilbab? Bukankah gadis berjilbab itu identik dengan gadis yang pendiam, lemah lembut, ramah bukan gadis yang jutek dan kasar seperti aku?’ Huh! Terserah apa yang mereka semua pikirkan. Aku tidak peduli. Inilah aku dan inilah Adia sekarang. Lagipula bukankah sebuah perubahan juga membutuhkan proses agar sekitarnya bisa memahami dan mengerti akan perubahan itu sendiri?

Ketika kuliah sudah usai, teman-teman yang dulu adalah teman bermainku saat aku pergi ke kafe atau ke mana lah yang hanya ingin menghabiskan waktu dengan mengobrol kesana kemari tak tahu arah dan entah itu bermanfaat atau tidak kami pun tak peduli. Yang pentinga kami senang dan tidak bosan.

“Adia, ini beneran loe?” tanya Ratih dengan memasang muka yang heran.

Aku mengangguk. “Emang yang loe liat ini siapa? Adia kan?”

“Iya. Kita emang liat loe Adia tapi ini bukan Adia yang seperti biasanya. Loe berubah!” ucap Navi dengan nada agak ditekan.

“Berubah apanya? Gue tetap Adia. Adia teman loe semua.” jawabku tenang.

“Huh! Teman kita semua?? Loe yakin??” tanya Ratih meremehkanku.

Sifatku yang teman-temanku seharusnya tahu, aku tak suka diremehkan. Ingin sekali aku marah dan membentak Ratih tapi aku harus bersabar. Sabar, sabar, sabar. Kata itulah yang aku ucapkan untuk meredam amarahku. Aku menghela napas pendek dan tetap diam belum menjawab pertanyaan Ratih.

“Iya, loe yakin masih teman kita?? Kalau emang iya nanti malam bisa nggak kita hang-out bareng ke kafe?” tambah Navi.

“Uhm, maaf gue nggak bisa. Gue pengen dirumah aja lagian kalian pasti ngajak gue ke kafe jam sepuluh malam. Jam segitu nggak baik, cewek keluar malam.”

“Oh? Jadi gitu? Loe mikir kita bukan cewek baik-baik gitu?? Teman macam apa sih loe, Adia? Bukannya loe juga pernah gabung sama kita? Jadi apa bedanya loe ama kita? Apa karena loe sekarang udah pakai jilbab jadi loe mikir kita bukan cewek baik-baik dan loe sekarang lah yang menjadi cewek baik itu?” ucap Navi beruntun.

Ucapan Navi benar-benar membuatku marah. Ingin sekali aku membentaknya dan menutup mulutnya agar tidak bicara seenaknya lagi padaku. Saat aku ingin berdiri dan ingin membentaknya tiba-tiba Mirzam dan Agni datang.

“Eh maaf mengganggu kalian semua. Tapi kami sedang membutuhkan Adia sekarang. Maaf!” sela Mirzam seraya mengajakku untuk meninggalkan Navi dan Ratih.

“Iya, Adia! Kita butuh loe! Yuk!” ajak Agni seraya membawa tasku.

Kami bertiga pun meninggalkan Navi dan Ratih yang masih ingin menghakimiku. Aku melihat mereka berdua yang masih kesal denganku dari luar kelas. Tapi apa boleh buat, ini kan tubuhku dan ini aku. Jadi aku berhak melakukan apapun dengan tubuhku dan berhak merubah sikap sesukaku, mereka tidak berhak untuk melarangku.

“Uhm, makasih ya Agni, Mirzam! Kalian semua bantuin gue.” ucapku seraya melempar senyuman pada dua orang laki-laki didepanku ini. Mereka memang teman baikku sejak SMP. Jadi tidak heran kalau mereka pasti sangat dekat denganku.

“Sama-sama Adia!” balas Mirzam dengan suara yang lembut.

“Hah?! Siapa juga yang bantuin loe, Adia? Kita emang butuh sama loe. Jadi loe jangan ke-GR-an ya, gue bantuinloe!”sela Agni kesal.

“Hei, loe kenapa sih Agni? Kok loe jadi sewot kayak gini sama gue? Loe punya masalah sama gue? Kenapa hari ini loe sewot mulu sama gue? Apa karena perubahan gue ini? Loe nggak suka kalau gue berubah?Hah?!” tanyaku ikut kesal melihat sikap Agni.

“Udah-udah! Kalian berdua kenapa sih? Selalu aja nggak pernah bisa akur. Agni, kalo loe emang punya masalah sama Adia bilang dong! Jangan dipendam! Terus Adia juga kalo sekarang udah mulai berubah juga harus jaga sikapnya. Harus jaga kesabarannya juga.” sela Mirzam mencoba menasehatiku dan Agni.

Aku langsung mencoba meredamkan amarahku setelah mendengar nasehat Mirzam tapi berbeda dengan Agni yang tetap biasa saja. Dia memang kepala batu. Susah untuk dinasehati.

“Huh! Lebih baik gue pergi dari sini daripada tetap disini malah gue harus denger ceramah dari loe dan liat satu mahkluk yang ngeselin ini nih!” ucap Agni kemudian pergi meninggalkanku dan Mirzam.

“Hah?! Dasar Agni ngeselin banget sih!!!”

“Yang sabar aja  ya Adia. Mungkin dia kaget dengan perubahan loe ini. Jadi dia masih butuh waktu untuk mengerti dan memahami ini.” ucap Mirzam menenagkanku.

Aku menghela napas pendek. Nah, ini nih yang membuat persahabatanku dengan kedua orang laki-laki ini tetap ada sampai sekarang. Meskipun ada Agni yang kepala batu, ada aku yang jutek dan kasar tapi ditengah-tengah kami ada sebuah obat untuk mencairkan suasana. Ya. Mirzam memang sangat berbeda denganku dan Agni. Entah kenapa kita bertiga masih bersahabat hingga kini. Tapi mungkin ini memang takdir kami bertiga untuk tetap bersahabat meskipun kami semua mempunyai sifat yang berbeda.

“Adia, gue duluan ya! Masih ada rapat yang harus gue hadiri.”

“Iya.” jawabku seraya mengangguk.

“Assalamu’alaikum.” pamit Mirzam seraya melempar senyuman padaku.

“Ah, wa’alaikumsalam.”

Mirzam memang sangat jauh berbeda dengan Agni. Mirzam adalah laki-laki dengan pembawaan yang tenang, sikapnya lembut pada semua orang terlebih pada perempuan. Ia sangat menghargai seorang perempuan. Ini terlihat saat kami masih SMP. Dia pernah babak belur hanya karena ingin membela seorang perempuan yang dijahili oleh teman lainnya. Aku juga sempat tidak percaya, karena dia pun tidak mengenal dengan perempuan yang ia tolong itu. Saat aku bertanya kenapa ia menolong perempuan itu padahal ia kan tidak mengenalnya. Tapi kau tahu apa jawaban Mirzam? Dia menjawab ‘Apakah aku harus mengenal orang yang aku tolong? Jangan pernah melihat siapa dan bagaimana orang yang kamu tolong tapi lihatlah seberapa besar bantuanmu hingga dapat meringankan masalahnya.’ Wow! Aku tidak percaya ini diucapkan oleh anak SMP. Sejak saat itu aku mulai tahu siapa Mirzam. Pemikirannya sangat dewasa tak seperti umurnya.

Sedangkan Agni, dia adalah anak berandal yang tidak mau ikut aturan. Saat SMP ia selalu tak pernah absen keluar masuk ruang kepala sekolah. Ya. Tentu saja karena ulah-ulahnya. Ulahnya yang paling aku ingat adalah ia hampir saja ingin membakar ruang laboratorium. Aku tahu dia tidak bermaksud melakukannya, ia hanya tidak sengaja. Tapi tetap saja juga tidak wajar kalau ia ingin menyalakan petasan di ruang laboratorium. Yang jelas-jelas ruang tersebut banyak benda-benda yang mudah terbakar. Hampir saja ia akan dikeluarkan dari sekolah, tapi untung saja Mirzam berhasil meyakinkan kepala sekolah agar tidak mengeluarkan Agni. Entah apa yang dibicarakan Mirzam dengan kepala sekolah, tapi aku juga ikut bersyukur karena Agni tidak dikeluarkan dari sekolah. Semenjak kejadian itu, Agni mulai berubah meskipun tidak berubah menjadi anak yang penurut tapi hanya mengurangi porsi ulahnya.

Tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh dua orang perempuan yang hingga kini tidak setuju dengan perubahanku ini. Aku sudah berulang kali menjelaskan bahwa inilah aku yang sekarang, tapi jika mereka berdua tidak mau menerimanya apakah aku harus memaksa mereka untuk menerima perubahanku ini? Itu pun tidak adil. Jadi aku memutuskan untuk tidak lagi memberi penjelasan pada mereka berdua.

“Adia, loe tetep bersikukuh dengan perubahan loe sekarang?” tanya Navi to the point padaku.

“Insya Allah iya.” jawabku tenang.

“Oh? Gitu??” tanya Ratih seraya mengernyitkan alis.

“Ya. Bukankah setiap orang berhak menentukan pilihannya ingin menjadi apa? Jika ingin baik ya memang perlu menghadapi tantangan tapi jika ingin jelek ya terkadang juga harus menghadapi tantangan.”

“Jadi loe sekarang berubah baik dan kita jelek??” tanya Ratih dengan nada kesal.

“Sok alim banget sih loe sekarang, Adia!” tambah Navi.

“Bukannya sok alim. Tapi ini memang yang harus dilakukan seorang perempuan. Dia harus menjaga sikap dan kelakuannya.” jawabku tetap tenang meskipun amarahku sudah hampir mau meledak. Tapi aku teringat akan ucapan Mirzam bahwa aku harus menjaga sikap dan harus bersabar.

Tiba-tiba Navi dan Ratih terdiam. Aku berharap mereka berdua menyerah kali ini dan tak berusaha memojokkanku lagi.

“Okay. Kita nggak akan menghakimi loe lagi tapi dengan syarat loe harus mau datang dalam acara kita malam ini dirumah gue.” ucap Navi dengan nada agak lirih.

“Tapi…”

“Nggak ada tapi-tapian. loe harus datang ke rumah Navi nanti malam jam delapan tepat. Dan satu hal loe nggak boleh ngajak Mirzam dan Agni.” sela Ratih.

“Kenapa gue nggak boleh ngajak mereka berdua?” tanyaku heran.

“Udah nggak usah banyak tanya kenapa! Pokoknya gue tunggu loe di rumah gue jam delapan tepat.” ucap Navi dan kemudian mereka berdua pergi meninggalkanku.

Tak lama kemudian, Mirzam dan Agni datang menghampiriku. “Loe nggak kenapa-napa kan, Adia?” tanya Agni dengan nada cemas.

Aku menaikkan alis menandakan aku heran. “Emangnya gue kenapa?”

“Oh? Nggak apa-apa kok. Lupain aja!” jawab Agni sambil memalingkan pandangannya.

Aku melihat Mirzam tersenyum kecil melihat Agni. “Kenapa loe nggak mau jujur aja sih? Dasar!” kemudian Mirzam melihatku. “Agni sebenarnya khawatir sama loe, Adia! Karena kita tadi liat loe lagi sama Navi dan Ratih. Jadi kita mikir jangan-jangan loe dipojokin lagi sama mereka berdua.” jelas Mirzam.

“Oh? Karena itu? Kenapa nggak langsung to the point aja sih? Huh!” balasku kesal seraya memandang Agni. “Tapi gue nggak apa-apa kok. Mereka cuman mau ngundang gue ke rumahnya Navi malam ini jam delapan.”

“Loe yakin mau datang ke rumah Navi??” tanya Agni meyakinkanku setelah mendengar penjelasanku. Yah, meskipun sebelumnya dia cuek tapi setelah aku mengatakan undangan ke rumah Navi akhirnya dia memperhatikan ucapanku juga.

“Ya. Lagipula mungkin mereka juga udah capek mojokin gue terus. Mungkin ini adalah terakhir kalinya mereka berbuat seperti itu. Dan semoga setelah ini mereka berdua mau menerima perubahan gue tapi kalau toh akhirnya mereka nggak bisa menerima perubahan gue itu urusan mereka lagipula setiap orang berhak berubah dan nggak ada yang bisa melarang meraka apalagi jika itu adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Dan mungkin lama-kelamaan mereka juga pasti akan mengerti dan memahami, hanya saja mereka masih membutuhkan waktu untuk proses itu.” jelasku panjang lebar. Hufh, udah kayak rumus persegi panjang aja, panjang kali lebar.

“Subhanallah! Loe dapat kata-kata itu dari mana, Adia? Belum pernah gue dengar seorang Adia berkata bijak kayak gitu.” ucap Mirzam spontan.

“Iya. Loe copy-paste dari siapa? Atau otak lo lagi nggak beres nih, makanya loe bisa ngeluarin kata-kata kayak gitu.” tambah Agni.

Aku langsung mengernyitkan alis dan memasang tampang jutek. Dua laki-laki ini seakan mengerti suasana hatiku, kemudian mereka berdua memasang senyum yang tanpa dosa itu serta membuat wajah mereka terlihat lucu hingga akhirnya aku pun tertawa melihat tingkah mereka berdua.

“O iya berarti nanti malam jam tujuh abis isya, Mirzam jemput gue terus abis itu baru kita berdua pergi jemput Adia biar jam delapan, Adia bisa sampai di rumah Navi.”jelas Agni.

“Baiklah!” balas Mirzam.

“Eh? Siapa juga yang mau ngajak loe berdua?” tanyaku heran.

“Lho? Loe nggak ngajak kita berdua, Adia?” tanya Mirzam kaget.

“Iya. Gue nggak ngajak kalian berdua karena itu emang syarat yang diajuin sama Navi. Gue nggak boleh ngajak kalian.”

“Hah?! Navi bilang gitu??” tanya Agni juga kaget.

Aku hanya mengangguk. Kemudian aku melihat Mirzam yang ditarik oleh Agni menjauhiku. Entah apa yang mereka berdua bicarakan, tapi itu membuatku tidak nyaman. Bagaimana bisa seseorang merasa nyaman jika ada dua orang yang sengaja berbisik-bisik didepannya? Aku berdeham keras sehingga terdengar oleh mereka berdua. Mungkin mereka menyadarinya sehingga mereka mulai mendekat kepadaku lagi.

“Baiklah! Nggak apa-apa kalo emang kita berdua nggak diajak. Iya kan, Mirzam?” tanya Agni seraya menyenggol tubuh Mirzam.

“I, iya. Nggak apa-apa kok!”

“Yah, lagipula kalo loe malam ini ada acara sendiri di rumah Navi, kita berdua juga bisa jalan-jalan sendiri. Betul nggak, Mirzam?” tanya Agni lagi.

“Yupz!”

“Ya udah. Udah sore juga. Gue mau pulang. Nggak baik juga kan kalo cewek pulang malam? Okay, assalamu’alaikum.” pamitku pada Mirzam dan Agni.

“Wa’alaikumsalam.” jawab Mirzam dan Agni serempak.

“Eh mau gue anterin nggak Adia? Mumpung kita satu arah dan gue juga mau langsung pulang.” tanya Agni tiba-tiba.

“Nggak usah. Gue bisa pulang sendiri.”

“Hei,Agni! Loe kan bareng sama gue! Tungguin gue kenapa!” ucap Mirzam kesal. Masih terdengar obrolan mereka berdua meskipun dengan suara yang pelan.

***

Sampainya di rumah, Mama sudah menungguku didepan pintu. Aku menghela napas panjang, kali ini apa yang akan terjadi? Aku pasrah denganmu, Ya Allah! Bantu hamba-Mu ini.

“Adia, kamu bohong apa sama Mama?” tanya Mama langsung padaku.

“Hah?! Bohong apa? Adia nggak bohong sama Mama.” ucapku bingung.

“Ikut Mama sekarang!” Mama menarikku ke kamar dengan kasar. Ya Allah, kenapa Mama jadi seperti ini? Ini bukan Mama yang aku kenal. Ada apa ini?

“Lihat! Apa maksud semua ini?” bentak Mama.

Mama mengeluarkan semua isi lemari pakaianku. Baju-baju muslim dan jilbab banyak yang berserakan di tempat tidur. Memang aku sembunyi-sembunyi dalam membeli baju muslim dan jilbab ini. Aku tidak bermaksud untuk membohongi Mama, hanya saja aku belum siap untuk mengatakannya sekarang.

“Bisa kamu jelaskan semua ini sama Mama sekarang?” tanya Mama sambil melipat kedua tangannya didada.

Aku terdiam sejenak untuk mengumpulkan semua keberanian. Ya. Aku harus mengucapkannya sekarang, jika aku tidak siap. Kapan aku akan siap? “Maafkan Adia, Ma. Adia beli semua ini karena Adia ingin mulai sekarang memakai jilbab, Ma.” jawabku tanpa berani memandang Mama.

“Apa?! Kamu ingin memakai jilbab?? Kamu yakin dengan ucapanmu???”

Aku menghela napas panjang. Seperti yang kuduga, Mama pasti sangat kaget mendengar pengakuanku ini. Tapi apa boleh buat, cepat atau lambat pasti aku akan ketahuan. Tapi ada dugaanku yang salah, tiba-tiba aku mendengar Mama tertawa. Mama menertawakan apa? Menertawakan ku??

Mama menggelengkan kepala. “Huh! Mama tidak yakin dengan perubahanmu ini. Mama tahu pasti ada alasan tertentu mengapa kamu berubah. Iya kan? Atau laki-laki mana yang akan kamu incar dengan pakaian-pakaian seperti itu?”

Aku tersentak kaget mendengar ucapan Mama. Aku tidak percaya Mama dapat berkata kasar seperti itu. “Mama! Bagaimana Mama bisa berpikir seperti itu?” tanyaku kaget dan aku memang tidak terima Mama bicara seperti itu.

“Huh! Mama yang melahirkan dan membesarkanmu. Bagaimana Mama tidak tahu semua sifatmu? Sudahlah, jika ingin menarik hati laki-laki itu, berpenampilanlah seperti Adia sebelumnya. Kau malah terlihat lebih cantik daripada dengan pakaianmu sekarang yang tertutup itu. Bagaimana laki-laki itu tahu bahwa kamu itu cantik?”

Aku semakin tersentak kaget. Aku benar-benar tidak mengenal Mama yang sekarang. “Mama!” teriakku. “Mama tidak berhak menyuruhku seperti itu! Lagipula aku berubah karena keinginanku sendiri. Bukan karena aku ingin menarik hati seorang laki-laki. Aku tak menyangka Mama berpikir sepicik itu! Mama seharusnya senang melihatku berubah. Bukankah kita memang diwajibkan untuk menutup aurat? Seharusnya juga Mama jauh lebih tahu itu daripada aku. Apa yang terjadi pada Mama sehingga Mama melarangku untuk berubah? Apa, Ma??”

PLAK!!! Aku tak menyangka tangan lembut Mama mendarat di pipiku. Kenapa semua menjadi seperti ini? Apa aku salah dengan perubahanku ini? Kenapa banyak yang menentang dengan perubahanku? Apakah ini adalah cobaan yang Engkau berikan padaku agar aku lebih bertakwa kepada-Mu? Aku tahu Kau tidak akan pernah memberi cobaan diluar batas kemampuan hamba-Mu. Aku tahu itu. Bantu hamba Ya Allah. Tak sadar pipiku sudah basah. Air mataku keluar membasahi kedua pipiku. Aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Kemudian aku berlari keluar kamar dan pergi dari rumah.

***

Ketika itu aku melihat jam tangan menunjukkan pukul tujuh malam. Apa aku harus datang ke rumah Navi? Aku tak bisa datang seperti ini. Apakah aku ingin ditertawakan oleh mereka? Tiba-tiba saat aku berjalan, ada sebuah mobil yang berhenti tepat disampingku. Dan aku tahu tentunya mobil siapa itu. Dua orang laki-laki keluar dari mobil itu dan menghampiriku.

“Adia, loe kenapa disini?” tanya Mirzam padaku.

Aku tetap terdiam, tak menjawab pertanyaan Mirzam.

“Uhm, lebih baik kita masuk ke dalam mobil aja.” ajak Agni.

Aku mengikuti mereka berdua untuk masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil aku tetap terdiam.

“Uhm, gimana Adia? Ini udah jam setengah delapan. Apa kita nganterin loe ke rumah Navi?” tanya Mirzam padaku.

“Tapi kan gue nggak boleh…”

“Iya, kita tahu kok. Kita berdua cuman nganterin loe doang sampe didepan rumah Navi setelah itu kita berdua mau jalan.” sela Agni.

“Baiklah!”

“Uhm… Ngomong-ngomong loe tambah cantik deh kalo pipi loe merah.” ucap Agni lirih padaku.

“Jangan seenaknya ngomong seperti itu!!” ucapku agak kesal dengan Agni.

Mirzam hanya bisa tersenyum melihat tingkah lakuku dengan Agni. Tak lama kami bertiga sampai di depan rumah Navi. “Loe yakin Adia mau masuk sendiri kesana?” tanya Agni meyakinkanku.

“Iya. Gue masuk duluan ya!” pamitku pada Mirzam dan Agni.

“Kalo ada apa-apa telpon kita ya, Adia!” pesan Mirzam padaku.

Aku menoleh dan hanya melempar senyuman pada mereka berdua.

***

Didalam rumah Navi ternyata ada pesta. Entah pesta apa itu yang jelas kenapa aku merasa tidak nyaman datang kesini. Aku tak mengenal orang-orang disini. Dan jika diperhatikan baik-baik sekumpulan orang-orang ini lebih banyak kaum laki-lakinya daripada perempuan. Yang aku inginkan adalah aku ingin pulang sekarang juga. Saat aku ingin berbalik, Navi melihatku dan menghampiriku. “Hei, akhirnya loe datang juga! Teman-teman, acara sekarang sudah bisa dimulai.” ucap Navi keras sehingga ia pun menjadi pusat perhatian. Lampu mendadak padam dan hanya ada satu cahaya. Cahaya itu hanya menyorotiku. “Nah, kalian lihat siapa cewek ini? Kalian tahu siapa sebenarnya cewek ini? Ini adalah Adia! Adia si bintang pesta sekarang sudah berubah! Ia sudah menutup keindahan dalam dirinya.”

Seorang laki-laki mendekat menghampiriku dan berkata, “Oh? Loe Adia? Gue hampir nggak ngenalin loe. Gue pikir anak pesantren mana yang nyasar kesini. Ternyata Adia yang selama ini gue kenal.”

“Apa maksud semua ini, Navi? Loe mau mempermalukan gue didepan umum?” tanyaku berusaha tetap tenang dan sabar.

Navi dan Ratih tertawa keras. “Iya! Kita emang sengaja pengen mempermalukan loe didepan umum. Udah lama gue pengen ngelakuin hal ini dan akhirnya terwujud juga kan?”

“Kenapa loe setega ini sama gue, Navi, Ratih? Loe punya masalah sama gue? Bilang sama gue. Inget Navi balas dendam itu nggak baik dan Allah nggak suka itu.”

“Ah! Nggak usah bawa-bawa nama Tuhan deh Adia! Dan gue nggak perlu ceramah dari loe!”

“Ah! Elo lama Nav!” teriak seseorang dibelakangku dan tiba-tiba dia langsung menarik jilbabku hingga lepas.

Aku tersentak kaget. Kenapa dengan orang-orang ini? Kenapa mereka semua bersikap seperti ini? Aku menangis. Ya Allah, seharusnya aku tidak datang kesini. Aku seharusnya tidak menerima undangan Navi. Ya Allah, bantulah hamba-Mu ini. Bantu hamba Ya Allah. Tiba-tiba ada jaket yang mendarat di kepalaku. Dan ternyata itu adalah jaket Mirzam.

“Nav, loe tega ngelakuin kayak gini sama sahabat loe sendiri! Loe bener-bener keterlaluan!” bentak Agni.

“Iya. Kalian semua keterlaluan. Kalian seperti manusia berhati batu. Masih untung berasal dari batu atau mungkin malah kalian semua nggak punya hati!!” tambah Mirzam.

“Adia, lebih baik kita pulang sekarang!” ajak Agni dengan nada lirih.

“Kalian semua harus ingat. Allah SWT nggak akan membiarkan makhluk-Nya teraniaya. Pasti akan ada balasan untuk kalian semua.” ucap Mirzam dengan tatapan tajam kemudian pergi mengikutiku dan Agni.

***

Beberapa hari berlalu tanpa ada pembicaraan dirumahku. Papa dan Mama membiarkanku dan tak mempedulikanku. Sangat sakit memang diperlakukan seperti itu. Terlebih lagi oleh orang tua sendiri. Bagaimana mungkin orang tua tak mempedulikan anaknya hanya karena anaknya ingin berubah menjadi lebih baik lagi. Apakah perbuatanku itu salah? Ya Allah, aku tahu untuk menuju jalan-Mu Engkau memberikan banyak cobaan kepada hamba-Mu tapi aku juga tahu Ya Allah Ya Rabb Engkau tak akan memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan hamba-Mu. Aku tahu Kau akan membantuku dan aku tahu Kau sudah mempunyai rencana yang indah untukku dan keluargaku. Setelah aku berhenti berdoa, Papa masuk ke kamarku dengan memasang wajah yang marah. Ya Allah kali ini ada apa lagi?? Papa langsung menuju lemari pakaianku dan mengambil beberapa jilbab yang pernah Mama buang. Aku berlari mengikuti Papa ke belakang rumah dengan masih memakai mukena. Aku tak tahu apa yang akan dilakukan Papa kali ini. Aku melihat ada sebuah tong kecil di belakang rumah. Papa memasukkan jilbab yang beliau ambil dan memasukkannya kedalam tong itu, kemudian aku tersentak kaget dengan perbuatan Papa. Papa menyiram minyak kedalam tong itu dan menyalakannya. Seketika itupun jilbab-jilbabku terbakar. Aku pun menangis melihat itu. Bagaimana seorang Papa yang dulunya sangat aku kagumi karena tanggungjawabnya pada keluarga tega melakukan tindakan sekasar ini. Ya Allah Ya Rabbi aku mohon bukakanlah pintu hati orang tua hamba. Sadarkanlah mereka Ya Allah. Aku yakin mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat ini, Ya Allah. Kembalikanlah orang tua hamba yang dulu. Orang tua yang selalu taat kepada-Mu, orang tua yang selalu membimbing anaknya untuk menuju jalan-Mu, dan orang tua yang dulunya pernah mengajariku untuk membaca Al qur’an setiap malam. Kembalikanlah mereka, Ya Allah! Tiba-tiba mataku terasa berat dan tubuhku mulai lemas. Entah apa yang terjadi padaku saat ini.

***

Saat kubuka mata, aku sudah berada di rumah sakit. Ketika itu, Mama dan Papa menunggu disampingku. Mirzam dan Agni juga ada diruangan itu. Aku teringat kejadian semalam, air mataku mengalir lagi membasahi kedua pipiku.

“Kamu kenapa menangis, Adia?” tanya Mama padaku.

Papa juga mendekatiku dan menanyakan hal yang sama, tapi aku hanya menggeleng saja tak menjawab pertanyaan mereka. Kemudian dokter mendekati Mama dan Papa karena ingin berbicara dengan mereka. Mereka bertiga pun akhirnya keluar dan sekarang diruanganku hanya ada aku, Agni dan Mirzam. “Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Mirzam padaku.

Aku menjawab dengan tersenyum. “Aku sudah tidak apa-apa sekarang. Kalian tenang saja. Tak usah mengkhawatirkan aku.”

“Syukurlah, kalau kau memang sudah baikan. Tapi temanku yang satu ini tidak bisa aku aku minta untuk tidak khawatir.” ucap Mirzam seraya melihat Agni dengan memijingkan mata.

Aku tahu apa maksud Mirzam tapi sebelum aku ingin membuka mulut, Papa dan Mama masuk ke ruanganku bersama dokter. Papa dan Mama seakan memberi isyarat pada Agni dan Mirzam sehingga mereka berdua meninggalkan kami berempat.

Mama menghela napas panjang. “Mama sekarang sudah tahu apa yang kamu inginkan, Adia! Kamu ingin memakai jilbab kan? Ya. Mama perbolehkan kamu memakai jilbab, Adia!”

Aku sangat senang mendengar ucapan Mama. Tapi tiba-tibaku teringat lagi kejadian saat Papa membakar jilbabku. “Tapi bagaimana dengan Papa, Ma?” tanyaku lirih dan tak berani memandang Papa.

“Papa juga sudah memperbolehkan kamu untuk memakai jilbab, Adia. Maafkan sikap Papa yang keterlaluan dan tidak memperhatikan perasaan kamu. Maafkan Papa.”

Alhamdulillah Ya Allah Ya Rabbi, Engkau telah membukakan pintu hati orang tua hamba untuk menerima perubahan hamba ini. Aku memang yakin Engkau tak akan memberikan cobaan yang melampaui batas kemampuan hamba-Mu. Dan aku yakin setiap keteguhan hati pasti akan membawa keberkahan. Terima kasih Ya Allah.

2 Comments

  1. ined

    assalamu allaikum🙂

    tak smua orang allah akan membukakan pintu hatinya,… jadi bersyukurlah kamu adia karna kau salahh satunya,…
    semakin eratkan kecinta’anMU untukNYA,…

    wassalamu allaikum🙂

  2. wa’alaikumsalam…
    insyaAllah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: