ODIT dan PENGALAMANNYA

ODIT dan PENGALAMANNYA

Suatu hari ada seorang anak laki-laki yang bernama Odit sedang bermain di halaman belakang rumahnya bersama teman-temannya. Mereka sedang beradu kecepatan pesawat terbang mainan mereka. Saat permainan sedang seru, tiba-tiba pesawat Odit terbang ke sebelah rumahnya, yaitu terbang ke rumah yang tak berpenghuni. Odit mencoba mengajak teman-temannya untuk mengambil pesawatnya namun tak ada satupun teman yang berani menemaninya. Dengan berat Odit melangkahkan kakinya sendiri menuju rumah yang tak berpenghuni itu. Dia melihat berkeliling tapi tak menemukan pesawatnya. Tiba-tiba mata Odit tertuju pada sebuah pohon yang sudah lapuk dimana dipohon itu terdapat sebuah sarang lebah yang menakjubkan. Sarang lebah itu sangat kokoh dan berbentuk heksagonal. Memang baru pertama kali Odit melihat sarang lebah karena dia memang takut dengan lebah, takut karena sengatannya. Oditpun memutuskan untuk pergi dan kembali ke rumah tanpa mencari lagi pesawat kesayangannya itu.

Sesampainya di rumah, Odit merengek kepada orang tuanya bahwa pesawatnya telah hilang. “Ibu, aku ingin pesawat terbang yang baru!” ucapnya seraya menarik lengan ibunya.

“Pesawat yang baru? Bukankah ibu sudah membelikan pesawat untukmu kemarin? Kau kemana kan pesawatmu itu?” tanya ibu dengan nada agak marah.

“Pesawatku… pesawatku hilang, Bu! Aku menghilangkannya saat bermain adu kecepatan dengan teman-teman di halaman belakang. Pesawatku terbang ke rumah yang tak berpenghuni itu. ” jelas Odit seraya menunjuk rumah yang berada di samping rumahnya, “Saat aku ingin mengambilnya aku melihat ada sarang lebah yang begitu besar hingga membuatku takut, Bu! Aku takut terkena sengatan lebah.”

Ibu menghela napas panjang. “Baiklah! Ibu tidak akan membelikanmu pesawat yang baru tapi ibu akan menemanimu untuk mengambil pesawatmu itu.”

Odit masih merengek tapi ia pun tak bisa membantah perkataan ibunya. “Baik, Bu!”

Oditpun pergi dengan ibunya ke rumah tak berpenghuni itu untuk mengambil pesawatnya yang hilang. Saat ibu Odit mencari dimana pesawat itu berada, Odit hanya terduduk di sebuah batu dan melihat sarang lebah yang yang berada di pohon lapuk itu. Dari ujung halaman rumah tak berpenghuni ini, pandangan Odit hanya tertuju pada sarang lebah. Dia terheran-heran kenapa lebah bisa membuat sarang seperti itu? Lagipula sarang itu berpenghuni dengan lebah yang sangat banyak. Saat pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan, dia tak sadar bahwa ada seekor lebah yang berada didekatnya. Oditpun terjatuh dari tempat duduknya karena kaget melihat lebah itu. Wajahnya pun berubah pucat. Ia takut disengat lebah. “Ibu!” teriaknya keras.

Ibu pun datang menghampiri Odit yang terjatuh disamping batu. “Ada apa? Kenapa wajahmu pucat?”

Odit tak menjawab. Dan akhirnya ibu pun mengerti apa yang sedang ditakutkan oleh Odit. Ibu dengan cepat membawa anaknya pulang ke rumah.

Malam harinya Odit tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian tadi sore. Ia hampir saja disengat oleh lebah. Hari semakin larut dan mata Odit pun akhirnya menyerah. Ia pun tertidur. Pada saat yang sama Odit tak mengetahui apa yang akan terjadi padanya. Lebah yang ia temui tadi sore adalah lebah yang ingin menjadi sahabatnya. Lebah itu bernama Beenha. Beenha sangat ingin mempunyai teman, tapi ia tak mungkin bisa berkomunikasi dengan Odit. Karena itu ia meminta seekor ilmuwan semut yang bernama Antch untuk membuatkan ramuan agar Odit mengecil dan bisa bermain dengannya. Beenha pun terbang ke kamar Odit dan memberi satu tetes saja untuknya dan itu pun khasiatnya cukup lama. Oditpun perlahan-lahan mulai mengecil sekecil Beenha, mungkin lebih kecil lagi. Beenha dengan cepat membawa Odit keluar rumah, saat itu Odit merasakan dinginnya angin malam ini. Ia mencoba meraba-raba mencari selimut tapi bukan selimut yang ia dapati, ia melihat kaki yang sangat mungil yang melingkar ditubuhnya. Odit terperanjat ketika menyadari ia telah diterkam oleh seekor lebah?? “Aaaaaaaahhh!! Lepaskan aku! Lepaskan aku sekarang juga!!!” teriak Odit seraya meronta-ronta.

Beenha mengurangi kecepatan terbangnya dan mendarat di sebuah batu kecil. Ia mendaratkan Odit di batu itu. “Aaaahhh! Kenapa kau besar sekali? Ini pasti hanyalah sebuah mimpi. Ya, hanya mimpi. Aku hanya terlalu takut pada lebah sehingga mimpi buruk seperti ini. Ayo, bangunlah Odit! Bangun!”

Beenha tertawa melihat tingkah laku Odit. “Jika ini hanya mimpi coba saja kau cubit badanmu. Jika sakit ini bukan mimpi.”

Odit menuruti ucapan Beenha, ia mencubit tangannya sendiri dan… “Ah! Sakit!”

Beenha semakin tertawa. “Jadi? Ini adalah kenyataan, bukan?”

Odit pun berteriak sekencang-kencangnya. “Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku berubah menjadi kecil seperti ini? Bahkan aku lebih kecil darimu.”

“Tenanglah Odit! Kau seperti ini hanya sementara saja. Aku hanya ingin menjadi temanmu saja.”

“Kau tidak menjawab pertanyaanku! Dan dari mana kau tahu namaku?”

“Hahaha… Sudahlah! Terlalu panjang aku menjelaskannya kepadamu. Perkenalkan namaku Beenha. Lebih baik kau ikut bersamaku. Aku akan mengajakmu bertemu dengan sahabat-sahabatku yang lain.” ucap Beenha seraya menarik baju Odit dan membawanya terbang ke sarang lebah.

“Hei, kau tidak boleh berbuat seenaknya seperti ini padaku! Ini tidak benar!! Turunkan aku!! Aku tak ingin menemui sahabat-sahabatmu, apalagi harus ke sarangmu itu. Aku tak ingin pergi kesana! Jangan bawa aku pergi kesana! Kau pasti akan menjadikan aku sebagai makan malam bersama sahabat-sahabatmu, kan?”

Beenha hanya tertawa keras. “Entahlah!”

“Aaaahh!Jangan bawa aku kesana. Jangaaaaaaaannnn!!!”

 

Saat tiba di sarang lebah, betapa terkejutnya Odit melihat beribu-ribu lebah di sarang itu. Bagaimana bisa sarang seperti itu bisa memuat beribu-ribu lebah? Odit juga melihat ada lebah yang sedang membersihkan sarang, mengumpulkan makanan dan membawanya ke sarang, menghasilkan madu, memanaskan dan mengawalnya. “Hei, Beenha! Apa kau juga melakukan kegiatan seperti lebah-lebah itu?”

“Ah? Iya! Aku juga melakukan seperti itu!”

“Apakah kau tidak letih dengan semua pekerjaan itu? Pekerjaan itu sangat banyak!”

“Memang. Tapi kami tidak pernah letih dengan semua ini. Kami lebah-lebah pekerja membagi tugas-tugas di kalangan sarang kami. Contohnya, hari ini aku baru saja membina indung-indung madu untuk menyimpan madu. Saat itu aku juga melihatmu duduk termenung sendiri di atas batu sedangkan ibumu sedang mencari pesawatmu yang hilang.”

“Kau melihatnya??” tanya Odit heran.

“Tentu saja!”

“Uhm.. O iya bagaimana denganmu? Aku dilahirkan dari ibuku, lalu bagaimana kau dilahirkan?”

“Uhm, dilihat dari pertanyaanmu kau memang ingin tahu tentangku, bukan? Baiklah! Begini di sarang ini terdapat seorang ratu . Lebah ratu adalah lebah yang paling besar di antara semua lebah betina lain. Ia mengeluarkan telur pada masa tertentu. Tapi aku tidak menetas dari telur itu. Yang menetas dari telur-telur itu adalah ulat putih yang disebut larva, tanpa mata, sayap atau kaki, dan ia pun sangat kecil. Untuk beberapa lama ia terbungkus menjadi kepompong. Dalam masa yang sama, ia juga diberi makan secukupnya dan kemudian berubah dari kepompong menjadi sepertiku.”

“Jadi seperti itu? Lalu dengan lebah sebanyak ini apakah kau tidak keliru jika sedang melakukan pekerjaan?”

“Tidak pernah. Sebaliknya, kami sangat teratur. Beribu-ribu lebah tinggal bersama di dalam keadaan keharmoniansambil kami melakukan kerja-kerja kami.”

Tiba-tiba mata Odit tertuju pada sebuah benda yang berwarna putih. “Apa itu Beenha?” tanyanya seraya menunjuk benda yang berwarna putih itu.

“Itu adalah benda asing yang masuk ke sarang kami.”

“Benda asing??”

“Iya. Benda asing yang masuk ke sarang kami dan itu terlalu besar untuk dikeluarkan akan diselimuti oleh propolis agar tidak ada bakteria yang berkembang biak di benda itu.  Propolis adalah satu bahan anti-bakteria yang menghalangi perkembangbiakkan bakteria.”

“Propolis?? Apa itu propolis? Darimana lebah bisa membuat propolis??” tanya Odit heran.

“Propolis adalah getah madu. Kau mau melihatnya? Ayo, akan kutunjukkan padamu!” ajak Beenha.

Beenha mengajak Odit ke suatu tempat di ujung sarang. Dia melihat beberapa lebah sedang mengumpulkan sejenis bahan yang dinamakan damar dari tunas bagian pokok yang melekat dengan bantuan rahang bawah mereka. Mereka menghasilkan propolis dengan air liur mereka dengan damar tersebut dan membawanya ke sarang di dalam kantong khas di kaki mereka.

Odit pun merasa takjub melihat itu semua. Bagaimana seekor lebah bisa tahu cara mengawetkan suatu benda agar tidak ada bakteria yang berkembang biak dalam sarang yang bisa menggangu kesehatan lebah-lebah di sarang itu? Mata Odit tertuju pada sebuah cairan berwarna kuning yang dihasilkan oleh lebah. “Beenha, itu madu?” tanyanya seraya menunjuk ke seberang.

Beenha menoleh ke arah lebah yang menghasilkan madu. “Ya. Itu adalah madu. Lihatlah dibelakangmu!”

Odit membalikkan badannya dan melihat madu yang sangat banyak. Dia pun mengambil madu dengan ujung jarinya dan merasakannya. “Hmm… Madu ini enak sekali! Aku suka sekali dengan madu! Lagipula madu ini banyak sekali.”

“Memang banyak. Tapi itu tidak akan kami pergunakan semuanya.”

“Lho? Kenapa tidak kau pergunakan semua? Buat apa lebah-lebah ini bersusah payah menghasilkan madu kalau akhirnya tidak mereka pergunakan semuanya? Bukankah itu termasuk pekerjaan yang sia-sia?” tanya Odit makin heran.

“Kau tahu? Makanan lebah adalah sari madu bunga (nektar), yang tidak kami jumpai di musim dingin. Kami mencampur nektar yang kami kumpulkan pada musim panas dengan suatu cairan khusus yang dikeluarkan tubuh kami. Campuran ini menghasilkan madu dan kami menyimpannya di musim dingin. Sebenarnya kami menghasilkan madu sebanyak ini bukan hanya untuk kami sendiri, melainkan juga untukmu. Manusia. Seperti makhluk lain di alam, lebah juga mengabdikan diri untuk melayani manusia; sama seperti ayam yang menghasilkan telur setiap hari meskipun tidak membutuhkannya dan sapi yang menghasilkan susu jauh melebihi kebutuhan anak-anaknya.”

“Jadi seperti itu? Lalu kenapa sarang lebah berbentuk heksagonal? Kenapa kau tidak membuat sarang yang berbentuk segitiga, bulatan atau yang lain?”

“Kami membuat sarang berbentuk heksagonal seperti itu karena rancangan segienam dari petak-petak sarang lebah memungkinkan penyimpanan madu dalam jumlah terbanyak dengan bahan baku pembuatan sarang yaitu lilin, dalam jumlah paling sedikit.”

Mendengar jawaban Beenha, Odit semakin terpukau. Bagaimana lebah yang hanya berukuran 1-2 cm ini dan ia mampu melakukan perhitungan itu dengan apa yang telah diilhamkan Tuhannya? Odit menghela napas panjang. “Hmpfh… Aku lelah sekali Beenha!”

Beenha melihat wajah Odit yang kusut karena kecapaian. “Baiklah! Lebih baik kau beristirahat di tempatku.”

Beenha membawa Odit ke sebuah ruangan di sarang lebah itu. Saat memasuki ruangan itu, Odit merasakan suasana yang lembab. “Kenapa ruangan ini sangat lembab, Beenha?”

“Memang ruangan ini harus lembab karena untuk membuat madu memiliki tingkat keawetan yang tinggi harus dijaga pada batas-batas tertentu. Pada kelembaban di atas atau di bawah batas ini, madu akan rusak serta kehilangan keawetan dan gizinya. Begitu juga, suhu sarang haruslah 35 derajat Celcius selama 10 bulan pada tahun tersebut. Untuk menjaga suhu dan kelembaban sarang ini pada batas tertentu, ada kelompok khusus yang bertugas menjaga pertukaran udara. Mendekatlah Odit! Kau lihat itu?” ucap Beenha seraya menunjuk beberapa lebah yang berada di luar ruangan Beenha. “Jika hari panas, terlihat lebah sedang mengatur pertukaran udara di dalam sarang. Jalan masuk sarang dipenuhi lebah. Sambil menempel pada kayu, mereka mengipasi sarang dengan sayap. Dalam sarang yang baku, udara yang masuk dari sisi terdorong keluar pada sisi yang lain. Lebah pengatur pertukaran udara yang lain bekerja di dalam sarang, mendorong udara ke semua sudut sarang.”

“Uhm, ternyata lebah-lebah ini bisa bekerja sama ya? Dugaanku salah! Aku pikir lebah itu serangga yang paling menakutkan. Karena aku paling takut dengan sengatannya sehingga aku tak pernah tahu apa-apa tentang lebah.”

“Pantas saja! Tadi sore aku keluar dari sarang untuk  mendekatimu, kau malah jatuh tersungkur dengan wajah yang pucat.”

“Jadi lebah itu kau, Beenha? Maafkan aku!”

Beenha tertawa kecil. “Sudahlah! Tidak apa-apa! Bukankah kau mau beristirahat disini? Istirahatlah! Aku ingin melanjutkan pekerjaanku kembali.” Kemudian Beenha meninggalkan Odit sendirian di ruangan itu.

Odit pun langsung merebahkan tubuhnya. Ia merasa sangat lelah sekali. Tapi hari ini ia mendapatkan sebuah pengalaman dan pengetahuan berarti yang belum pernah ia dapatkan. Perlahan-lahan mata Odit terpejam.

 

Ketika Odit membuka mata, ia menyadari dimana ia berada. Tempat ini sudah tak asing baginya karena setiap malam ia selalu merebahkan tubuhnya di ruangan ini. Ya. Kamar Odit. Ia tersentak kaget. Kenapa ia tiba-tiba bisa kembali ke kamarnya dan tentunya dengan ukuran tubuh yang seperti semula lagi. Odit langsung berlari menuruni tangga dan menemui ibunya. “Ibu, ibu tahu tidak apa yang aku alami semalam?”

“Memangnya apa yang telah kau alami?” tanya Ibu bijak.

“Aku berteman dan bermain di sarang lebah. Aku mempunyai teman yang bernama Beenha. Dan dia mengajakku untuk berkeliling di sarang lebahnya.”

“Kau pasti bermimpi Odit! Tidak mungkin hal itu terjadi.”

“Aku yakin itu bukanlah sebuah mimpi ibu! Aku benar-benar yakin mengalami itu, Ibu!”

“Sudahlah Odit! Itu semua hanya mimpi. Kau terlalu takut dengan lebah hingga membuatmu bermimpi seperti itu. Sudah jangan ganggu ibu!”

Odit pun pergi meninggalkan ibunya dan ia memberanikan pergi sendirian ke rumah yang tak berpenghuni di sebelah rumahnya. Dia terus memandangi sarang lebah yang berada di pohon lapuk itu. “Beenha! Terima kasih. Kau memberiku sebuah pengalamannya yang baru.” Tiba-tiba mata Odit tertuju pada sebuah bunga yang di atasnya ada seekor lebah yang sedang menghisap nektar. “Beenha? Apa itu kau??” Saat Odit mendekatinya, lebah itu pun terbang menjauh. “Beenha? Aku pikir itu kau!” Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke rumah tanpa menemukan Beenha. Padahal ia sangat ingin berbicara lagi dengannya.

Pada saat yang sama, ternyata lebah yang sedang menghisap nektar itu adalah Beenha. Ia tak mungkin menyapa Odit karena perjanjian dengan Antch sudah berakhir. Ia tak akan bisa berbicara dengan Odit lagi. Tapi Beenha sudah senang karena Odit tak lagi takut dengan lebah dan ia pun sudah menjadi temannya. Beenha pasti akan mengenang Odit dan tak akan melupakannya sebagai teman barunya itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: